Ganti Judul dan ALt sendiri

Jejak Perjalananku Bersama Suami dan Anak Pertama Kali

Jauh-jauh hari ayah memberi tahu kalau November punya rencana pergi berkunjung ketempat wisata. Ada rasa penasaran, kami mau diajak kemana ya ?. Sayapun tidak menanyakan detail perihal ini. Ternyata, cukup menjadi pengalaman berharga kalau punya anak balita harus tahu sedikit kondisi tempat yang akan dikunjungi. Biar rempongnya tidak terlalu. Nasi sudah menjadi bubur. 

Wisata Bahari Lamongan menjadi tempat wisata pertama kali yang kami kunjungi setelah long distance dua tahun dengan ayah. Jadi teringat wahana di trans studio, kurang lebih sama. Kalau mewahnya sih, jelas lebih berkelas trans studio. Tapi, bisa menikmati semua wahana di WBL karena ngantrinya tak sepanjang di trans studio. 

Sebelum Corona, naik kereta api menjadi transportasi favorit ketika menempuh perjalanan dimalam hari. Kali ini, pergi wisatanya karena dapat bonus dari kantor suami jadi perginya bareng satu rombongan. Kami menuju ke Blitar dulu, di RSIA beristirahat sejenak diatas kasur pasien sembari menunggu keberangkatan pukul 23.00 wib. Yang ternyata, rute keberangkatan melewati Kediri. Tahu begitu, kami menunggu di tepi jalan deh. Hmmm,...

Nak andra yang baru berusia 14 bulan, dan baru pertama kali diajak pergi naik kereta selama perjalanan dia tidak bisa tidur. Melihat kesana kemari bahkan harus digendong sang ayah biar tenang di dalam kereta. Beda lagi dengan sekarang, dia pasti heboh dan girang kalau diajak naik kereta lagi. Pengalaman yang seperti ini bikin kapok sambal. Yang pasti rempong itu emaknya, kudu bakoh menghadapi segala kondisi anak. 

Berangkat malam menjadi jalan ninja bagi kami serombongan agar sampai di Lamongan shubuh. Dan sesuai rencana, kami tiba di tempat empat jam sebelum WBL dibuka pada jam 09.00. Wisata bahari yang terletak di kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan ini sudah kami nanti tentunya. Tak sabar ingin segera masuk karena menunggu terlalu lama. Hampir Snack yang kami makan ludes dimakan. 

Perjalanan dimulai saat lokasi sudah dibuka. Tanpa alat bantuan gendongan yang ternyata saya tinggal di bus, membuat saya dan suami harus bergantian menggendong. Lokasi yang sangat luas dan sangat ramai pengunjung sebagai orangtua harus menjaga anaknya dong. Walau menahan pegal tangan dan kaki. Seperti biasa, memakai gelang kertas sebagai tanda sudah membayar dan siap memasuki arena

Kami serombongan berjalan melewati musium Islam Indonesia. Musium yang berisi benda bersejarah Islam terlengkap menjadi bagian wisata religi yang ada di WBL. Kami berkeliling di lokasi sesuai anggota keluarga masing-masing. Mau wahana apa yang dikunjungi pertama kali, terserah kita. Kami yang sedikit rempong bawa balita pertama kali, menyesuaikan kondisi. Berjalan sesuai minat dan mencicipi wahana yang membuat kami antusias. Kebetulan Andra takut mencoba wahana, kecuali wahana rumah hantu karena dia belum faham apa itu rumah hantu. Dengan dekapan ayah dan sayapun sebenarnya takut mencoba meredam rasa itu demi anak. 

Pertama, kami berkeliling melihat aneka satwa yang ada disana. Sembari mengeksplore dan membelajari Andra bentuk fisik binatang yang sesungguhnya. Lokasi yang amat sangat luas membuatku tak sanggup untuk mendampingi nak andra. Cukup suami yang menjadi guide anak Lanang berkeliling. Sedangkan saya menahan lapar yang mana kepala sedikit pusing dan ingin rebahan. Sayang, camilan ditas tak cukup memenuhi isi perut. Saat itu kondisi masih menyusui, persiapan kurang saat bepergian ternyata memang menyiksa. Menikmati pemandangan sambil menahan tawa dan rasa lapar itu sesuatu. Teman-teman saya perbolehkan ketawa kok 😂

Sempat aku ditegur suami, disuruh mendampingi anak supaya tahu semua binatang disana. Ya, akupun jujur dan bilang apa adanya. Setelah isi perut terpenuhi, sumringah dong walau harus berjalan beberapa meter dulu menuju lokasi istirahat. Berteduh dan menikmati nasi kotak lauk ayam dipinggir desiran ombak membuat suasana sedikit meredam perasaan khawatir. Andra tidak mau makan. Sedangkan bekal seadanya, yang memang tak cukup memenuhi nutrisi. Bawa buah pun tak dilirik. Apa mungkin kondisi kurang fit dan diperjalanan jadi dia butuh adaptasi kali ya ?

Pertanyaan yang selalu kurang jawaban puas, karena tiap bepergian nak andra sedikit rewel masalah makan. Kondisi begini, perjalanan tetap harus berlanjut. Usai istirahat makan, kami berjalan lagi menuju wahana berikutnya yang tak lupasaya dan suami bergantian untuk sholat. Sambil menunggu, nak andra digendong sang ayah sambil melihat pengunjung lain menikmati wahana sekitar. Kondisi lelah dan kurang sumringah menghiasi wajah Andra yang akhirnya tertidur digendonganku. 


Foto sebagai kenang-kenanganpun tak sempat kulakukan. Bahkan sayapun tak tahu sudah naik wahana apa saja. Yang saya ingat, saya berhasil melawan rasa takutku dengan naik tiga wahana. Yang menurutku sudah menguji detak jantung. Kalau suami berani mencoba wahana yang menguji nyali yaitu speed flip. Dibolak balikkan seperti diaduk, dan semua pengunjung yang naik teriak histeris. Tetap saja, mereka senang dan antusias karena keberanian mereka. Kalau saya wis jelas takut. 

Crazy car juga dicicipi oleh suami. Saya disuruh naik nggak berani. Hhhhha, kalau drop done saya sudah pernah pas di trans studio. Jantung serasa mau copot, pantesan ada peringatan yang punya riwayat jantung tidak boleh naik wahana ini. Banyak banget wahana yang ada disana, tak cukup untuk kami coba semua. Tetap bersyukur, ada beberapa wahana yang bisa kami nikmati bertiga. Masuk goa hantu,masuk goa yang didalmnya ada aneka hewan kecil (lupa nama wahananya), wahana berkeliling melihat satwa (ini juga lupa nama wahananya). Pokok kami memilih wahanan yang bisa kami nikmati bertiga. Jika anda tertarik untuk berkunjung ke wisata bahari Lamongan, lebih baik jangan tanggal merah atau musim anak libur sekolah. Wis pasti kamu tidak cukup nyaman saat dilokasi. Banyak orang yang ingin naik wahana, kami saja tiba disana pagi shubuh supaya bisa puas menikmati ditempat wisata dan tidak berjubel. 

Sehingga tidak capek berlipat saat diperjalanan dan hati merasa terhibur. Walau setelahnya kami harus kembali beraktivitas seperti biasa. Malahan, ditambah lagi nak andra yang jatuh sakit setelah bepergian dari WBL. Kecapekan dan asupan makan yang tak terkontrol sehingga sakitnya cukup lama selama seminggu. Radang tenggorokan dan demam. Jika mengingat masa itu, rasanya ingin mengulangi lagi deh dengan perjalanan yang lebih menyenangkan. Persiapan matang dan anakpun happy. 


November 2019. 




Windi Astuti
Fulltime mom yang suka menulis

Related Posts

Posting Komentar