√Tentang Titipan, Rasa Lelah, dan Pelukan

Tentang Titipan, Rasa Lelah, dan Pelukan



rasa lelah
ilustrasi gambar AI

"Bund, motorku hilang. Untuk beberapa bulan sabar dulu ya"

Seketika pandanganku kosong. Langkah kakiku ke depan. Namun, pikiranku melayang entah kemana. Kabar di pagi hari yang buruk bagiku. Tak pernah ada dalam bayangan sekalipun. Perempuan bicara rasa.

Aku yang introvert, berusaha tetap enjoy, tenang dan diam saat beraktivitas dengan rekan kerja. Mau cerita langsung ke teman, lidahku kaku  tak berdaya.

Mungkinkah ini ujian terberat di tahun 2026 ini ?. Ya allah. Ada yang datang sebagai rejeki. Ada barang yang hilang sebagai pengingat.

Secara akal, jika aku tidak mengikhlaskan. Hati rasanya akan marah terus. Ngomel dan tidak terima motor vario merah 125 hilang saat diparkir suami di kos. Untuk benar-benar ikhlas, aku masih berproses. Ini wajar kan?

Apalagi ketika melihat dari rekaman cctv. Hatiku berkecamuk, ingin marah dan menyalahkan. Tapi, pada siapa?

Muka ditutup masker, pakai topi dan celana pendek. Qodarullah, waktu kejadian, motor suami tidak di kunci stang. Dini hari sekitar pukul 02.40 wib, Rabu tanggal 8 Juli 2026 motor raib dibawa maling. 

Dengan mudahnya maling membawa motor vario merah 125 berplat AG 3217 EBU. Ya allah, sesak dada ini. Apalagi mengetahui kondisi suami yang sebenarnya beliau sangat stress. Vario merah yang membersamai prosesnya selama 5 tahun, kini dibawa maling. Seperti sia-sia apa yang selama ini diupayakan. Menguap begitu saja.

memaknai arti kehilangan
ilustrasi gambar AI

Rasa Lelah Akibat Banyak Pikiran

Aku tahu suami sangat merasa kehilangan barang besar dari hasil kerja kerasnya bertahun-tahun. Mengingat kembali masa dimana awal beli motor tersebut, membuat flashback lima tahun yang lalu.

Aku memang mengkhawatirkan motor tidak akan kembali. Yang lebih membuat aku sedih, adalah kondisi suamiku. Si tulang punggung yang pekerja keras.

Kalau ingat motornya, suami bahkan menangis. Tidurpun kurang nyenyak. Bagaimana bisa kembali ke normal untuk bisa beli lagi motor sebagai pendukung transportasi menuju tempat kerja? Semoga dalam waktu dekat ya. Amiin
Andai saat ini aku punya simpanan uang untuk bantu suami patungan beli motor. Andai motornya ditemukan. Andai kemarin motornya di kunci stang, mungkin maling akan kesulitan untuk membawanya.
Semua pernyataan dengan kata mungkin tersebut, tidak cukup mengobati atau membuat masalah mendapatkan solusi. Justru pikiran akan terkuras karena berhari-hari memikirkan motor yang tak kunjung ditemukan. Itu area akal manusia. Wajar, merasakan sedih bahkan stress dan down seperti yang dialami suami.

Aku tak mau larut dalam kesedihan. Membahas soal motor pun aku tak berani. Bersikap seperti biasanya, terus menghibur dan beraktivitas semoga menjadi penghibur untuk suamiku. Ku bisikkan juga di telinga anakku. "Nak, kita hibur ayah yuk. Kamu kan biasanya bisa bikin ketawa! "

Aku mencoba menata hati dan pikiran. Belajar tenang, walau sebenarnya aku juga belajar melepaskan tanpa harus mendoakan yang jelek-jelek kepada maling.

Masih ada area Tuhan yang kita tidak tahu kejutan apa yang akan diberikan di masa mendatang. Aku yakin, Tuhan tidak akan salah memberikan ujian kepada hambanya.

Sebagai bentuk ikhtiar dan usaha terbaik, suami sudah melaporkan kehilangan ke polsek setempat. Sampai kemarin (11/07/2026), polisi mendatangi tempat kos suami untuk dilakukan penyidikan lanjutan dan beberapa saksi atau yang terlihat di CCTV.

Jika memang motor tersebut hilang dan tidak kembali kepada suamiku, semoga kami mampu seikhlas-ikhlasnya melepaskan. Semoga Tuhan segera menggantikannya dengan yang lebih besar. Amiin

Memaknai Kehilangan Tanpa Menguras Lelah Fisik

Semua tentu berharap demikian. Yang sudah biarlah sudah. Dalam surat al insyirah telah ditegaskan. Bahkan diulang sebanyak dua kali dalam surat tersebut. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (Al Insyirah: 5-6)

Aku berusaha mencerna dengan akal sehat, ayat tersebut. Orang muslim seringkali menyampaikan kalimat indah tersebut. Namun, kali ini, aku cukup tertarik merefleksikan dalam kehidupan.

Justru aku bertanya balik pada diriku sendiri. Lantas, bagaimana aku dan suami bangkit untuk memaknai rasa lelah baik secara fisik maupun psikis ini untuk kembali kepada Tuhan yang Maha Esa? Wallohu'alam bishowab. Bantu aku dengan doa ya teman-teman Windi.

Lelah karena aktivitas fisik bisa saja diobati. Kalau lelah secara psikis, apa obatnya?

titipan, rasa lelah dan pelukan
ilustrasi gambar AI

Bertahun-tahun pernah di fase hidup paling bawah, membuatku belajar banyak hal. Masa remaja yang bisa dibilang masa suram. Roda ekonomi orang tua waktu itu benar-benar hancur karena banyak hutang. Membuat trauma ini belum hilang. Seperti melakukan remidial ketika nilaiku jelek. Ini yang sedang kualami.

Terbiasa sabar dan menahan ketika ingin punya sesuatu (barang). Menabung dulu, kerja keras dan usaha dulu. Hingga dititik ini, masih sama.

Namun, aku bersyukur. Bagian kelam tersebut ada hikmah kehidupan yang bisa kuambil. Minimal, menjadi pengingat dan jembatan untuk memilih dan memilah jangan sampai terjun ke lubang yang sama. Aku terus meyakinkan diri. Ini adalah bagian dari rajutan upaya keras, sabar dan belajar peka membaca situasi serta alarm dari Tuhan.

Di momen kehilangan motor inilah, bentuk titik balik aku dan suami. Diingatkan lagi bahwa semua akan ada hikmahnya. Semua hanya titipan, yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban.

Bukan maksud menggurui. Lelah rasanya, jika semua yang terjadi aku dan suami maknai sebagai kegagalan hidup. Tidak bisa menjaga barang miliknya, teledor. Hal ini akan berdampak pada stress tak berkesudahan.

Aku dan suami percaya, semua akan kembali membaik. Melalui ujian ini, aku kembali merenungkan beberapa hal :

1. Saat Butuh, Tuhan Menjawab dengan Caranya

Kita  bekerja, banting tulang yang disertai ikhtiar terbaik dalam bentuk doa. Kadang doa tak langsung dikabulkan sesuai ekspektasi, tapi bukan berarti Tuhan tak mendengar. Dia hanya menunda. 

2. Ujian Mengajarkan Hambanya Mendekat

Manusiawi jika kita baru mendekat saat diterpa cobaan. Namun, melangkah mendekat jauh lebih baik daripada menjauh sama sekali.

3. Pentingnya Merawat Keberkahan

Saat mendapatkan apa yang diinginkan, sering kali kita lupa perjuangan di awalnya. Merawat apa yang ada dan tetap rendah hati adalah proses belajar seumur hidup.

Akhir Kata

Lelah yang tak berkesudahan sering kali lahir dari pikiran kita sendiri yang terlalu memaksakan logika, hingga lupa bahwa ada kuasa Tuhan di atas segalanya. Lelah fisik bukan selalu karena aktivitas berat, melainkan karena pikiran yang terkuras memikirkan hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali kita.

Jika ada berita baik, atau teman windi mengetahui keberadaan motor kami. Mohon berkabar ya. Hilangnya diarea Suramadu. Yang konon, daerah ini memang rawan maling. Stay Safe teman-teman.








Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog "Perempuan Bicara Rasa" sebagai bagian dari Rangkaian Milad Ipedia ke-6 tahun 2026




Terbaru Lebih lama

Related Posts

9 komentar

  1. Ya Allah, ikut nyesek Mbak, dengan kehilangan sepeda motornya. Tidak mudah memang untuk menerima, tapi salut dengan cara Mbak menyikapinya. Semoga Allah ganti dengan yang lebuh baik dan lenih berkah ya Mbak. Aamiin.

    BalasHapus
  2. Kalau saja lelah tidak Allah ciptakan. Mungkin kita tak akan pernah menikmati rasanya tidur. Semoga segala lelah kita berakhir lillah. Bukan mengeluh karena lelah.

    BalasHapus
  3. Membaca tulisan ini rasanya kayak lagi dipeluk balik, deh. Setuju banget, kadang lelah itu bukan tanda kita lemah, tapi cuma tanda kalau kita butuh rehat sejenak dan butuh sandaran.

    BalasHapus
  4. Mbak turut berduka, semoga Allah segera ganti dengan rejeki yang lebih baik dan berkah. Pencurian motor memang merajalela di Surabaya dan Sidoarjo, walaupun dikunci stir , maling pun punya sejuta cara untuk mencurinya.
    Saya paham tidak mudah untuk mengikhlaskannya, dengan mbak berbagi rasa ini menjadi reminder saya juga bagaimana menyikapinya

    BalasHapus
  5. Mbak Wind, saya merasakan benar bagaimana rasanya kehilangan kendaraan yang biasa menemani kita sehari-hari, karena saya pun pernah kehilangan motor, tepat di teras depan rumah saya di waktu antara maghrib dan isya. Sungguh rasa campur aduk yang hebat. Ada rasa marah, kesal, sedih, semuanya menjadi satu.


    Bismillah Allah ganti dengan yang lebih baik, ya. Aamiin. Kalau pun motor yang hilang itu tak kembali, insyaAllah akan ada penggantinya dari arah yang mungkin kita tak duga, min haitsu laa yahtasib

    BalasHapus
  6. Innalillahi wainna Ilaihi rajiun...semoga motor yang telah hilang diganti dengan kendaraan yang lebih baik ya mbak. Amiin. Memang berdamai dengan keadaan adalah solusi terbaik, biar hati tenang dan nggak terlalu ngedumrel trus. Semangatt ya mbak Win.

    BalasHapus
  7. Ikut nyesek baca ceritanya, ga kebayang gimana perasaan mbak. Semoga Allah gantikan berlipat ganda ya mbak. Walau semua hanya titipan tetap aja ya mbak ada rasa sakit dulu sebelum akhirnya bisa ikhlas

    BalasHapus
  8. Ya Allah, Mbak, turut berduka cita. Saya pun pernah mengalami musibah yang sama—kehilangan motor Beat pada 2015. Sudah lama memang, tetapi lukanya tidak pernah benar-benar sembuh. Semudah itu orang lain merampas hasil kerja keras kita. Namun, semua terjadi atas izin Allah. Semoga kita bisa menerima cobaan ini dengan lapang dada, ya, Mbak, dan Allah gantikan dengan yang lebih baik.

    BalasHapus
  9. Saya suka dengan kalimat mbak yang ada di akhir-akhir artikel yaitu "Pentingnya merawat keberkahan,,,indah sekali kalimatnya. Iyaa memang betul rasa syukur itu perlu dirawat agar keberkahan ikut terrawat juga yaa mbak.

    BalasHapus

Posting Komentar