Ganti Judul dan ALt sendiri

4 Hal yang Harus Diperhatikan Dalam Mendidik Anak Jaman Now

Children see children do, anak adalah peniru ulung terbaik dari orangtuanya. Teringat awal dimana Andra meniru apa yang saya lakukan. Bahkan dia ingin melakukan hal yang sama saat itu. Seperti mengepel, menyapu, goreng tempe dan lain-lain. Saat saat tidak peka, ternyata hal ini merupakan rasa empathy yang sedang berkembang. Ketika cerita sama suami, justru saya dikatakan kurang sabar memberi contoh. Plak,,,,setelah itu memberikan kesempatan ke anak to do it. Bahwa ibu adalah sumber utama mendidik anak. Harus peka, faham dan sabar akan kemauan anak. 


Disini saya berbagi pengalaman keseharian bersama bocil yang masih berumur dibawah 3 tahun. Sekaligus mencurahkan isi hati yang sekaligus menjadi reminder diri dalam mendidik anak jaman now. Yang utama, menanamkan sifat jujur ke anak dalam hal apapun. Sebagai pondasi agar kelak anak tidak korupsi. 

*

Seringkali kita hidup dibesarkan dengan harapan, yang kadang membuat lupa orang disekitar. Hampir tiga tahun belajar disekolah bersama murid di salah satu sekolah swasta yang ada di Magelang, membuat diriku bercermin. Bahwa materi sebanyak apapun tak bisa menggantikan ksaih sayang orangtua. Fasilitas diberikan, apapun itu namun hal itu tak cukup memberikan kepuasan batin bagi mereka untuk mensuarakan isi hati. Sehingga berefek pada sikap yang menandakan butuh perhatian khusus selama ini. Ini terjadi pada anak usia remaja awal. Tetap saja anak kecil pun sama. Pasti mencari perhatian saat apa yang diinginkan tak kunjung terpenuhi. 

Benahi diri kita, dan akan terbenahi diri anak-anak juga. Benahi lisan kita, dan akan makin santun lah lisan anak-anak kita. Okina Fitriani

Mengutip dari apa yang disampaikan oleh psikolog ternama lulusan Universitas Gadjah Mada ini, membuatku tertegun dan harus melakukan refleksi diri sesegera mungkin. Pengalaman mengajar yang dulu pernah membuat saya tidak percaya diri terhadap kemampuan karena harus berdampingan selalu dengan perkembangan anak, sedangkan status belum punya anak. Hmmm. Sekarang dihadapkan dengan anak yang masih berusia balita pun harus sering istigfar dan berbenah yang kadang masih saja Alfa mendampingin tumbuh kembangnya dikeseharian. Jujur, butuh tobat dan konsistensi untuk melakukan perubahan. 

Jadi teringat pas bulan Desember 2020 mengikuti webinar spesial time yang diadakan oleh Hanacaraka Montessori, setiap hari dirumah namun anak masih saja rewel seakan kehadiran ibu tak memberikan ketenangan pada anak. Padahal bermain ditemani dan untuk apapun. Apa penyebabnya? Wis pasti, pada saat mendampingi masih ada distraksi seperti disambi melakukan pekerjaan lain, main gadget dll. Plakkk, langsung nunjuk diri deh. Kebetulan anakku Andra kepekaannya tinggi, seringnya dia mengamati orangtua yang kemudian merekam. Kalau dalam bahasa Jawa "titen" banget, selalu mencermati apa yang sudah-sudah. Signal ini sekaligus reminder diri, apalagi anak berada diusia emas seperti ini yang masa kecilnya tak bisa diulangi lagi. 

Ada beberapa hal yang menjadi catatan penting untuk saya pribadi, dari apa yang ditulis Bu Okina di feed instagramnya. Point' inilah yang kemudian saya catat dan saya rangkum ke dalam tulisan ini. 

1. Dekatkan diri setaat-taatnya dan akan makin besar pula peluang taat mereka

Mendidik anak jaman now dan nanti tantangannya semakin naik. Jaman dulu teknologi belum secanggih sekarang, kecerdasan orang semakin berinovasi . Jika tidak diimbangi dengan pondasi keimanan dalam diri bisa jadi ilmu yang didapat akan diaplikasikan tidak pada tempatnya. Yap, menanamkan pondasi keimanan bisa dimulai sejak dini. Tidak perlu menunggu anak menginjak dewasa baru didekatkan dengan apa yang namanya hablumminallah dan hablumminannas. 

Suamiku, selalu protes jika nak andra tidak saya ajari mengaji. Karena status saya sebagai guru ngaji, menjadi sorotan olehnya. Yang sebenarnya, sejak di awal keinginan suami mengenalkan huruf Arab ini memang sudah disampaikan diawal. Masha Allah, hal ini sekaligus menjadi pemantik diri untuk bisa mengatur semuanya dengan baik . Alhamdulillah, kebiasaan nak andra sudah mulai muncul untuk membolak balikkan buku huruf Hijaiyah, yang kadang dengan sendirinya setelah mandi ambil buku bantal kemudian mengaji. Dirumah memang sering banget dan bahkan setiap hari saya menyebar buku dekat tempat bermainnya, dan seringpula mengajak nak andra bercerita melalui buku. 

Hal lain, setiap ayah atau bundanya selesai sholat nak andra pasti mengambilkan ayah atau bundanya Alquran. Yang dia ingat dan fahami setelah sholat langsung mengaji. Subhanay, semoga kebiasaan ini berlanjut sampai nanti nak andra bertumbuh dewasa bahkan diusia Akil baligh. Soal sholat nak andra sudah kami kenalkan untuk pergi ke musholla. Meski disana kadang dia lari-lari, menaiki oungguh bundanya, tidak apa-apa. Ini bagian dari proses. Next, insha Allah ingin juga mengenalkan nak andra tentang keesaan Allah melalui buku. 

2. Benahi disiplin dan pengaturan diri kita soal waktu dan akan disiplin serta tertib pula mereka.

Hal ini juga yang masih menjadi PR, terutama dalam hal makan. Secara teori yang kufahami soal keteraturan dalam Montessori ini mengajarkan anak tentang kedisiplinan. Termasuk design settingan rumah yang tidak perlu diubah -ubah supaya anak hafal betul benda disekitar. Contoh lain, ada jadwal rutin setiap hari sebagai kids activity untuk memberikan stimulasi ke anak perihal perkembangan motorik halus dan motorik kasar. Alasan inipula yang menjadikan saya dan dua teman terkait mendirikan komunitas bingkai asuhan. Niatnya sebagai tempat belajar saya juga yang masih jauh dari kata sempurna dalam memberikan stimulasi ke anak. Memang mellow kalau bersinggungan dengan anak, semoga selalu diberi kemudahan dalam mengasuh dan diberi petunjuk untuk mengawal segala aktivitasnya. Doa seperti inilah yang seringnya menajdi pengerem segala kekhawatiran ku. 

3. Konsistenlah dalam bersikap dan akan makin kuat mereka memegang komitmennya.

Semakin kesini berasa berat ya, karena belum masuk kualifikasi. Saya masih sering lepas kontrol saat anak rewel, yang kadang nada keras akhirnya terlontar dari mulut yang kemudian berimbas pada sikapnya. Mereka apa yang pernah saya lihat kan dihadapannya. Ya Allah, menulis artikel ini benar- benar reminder bagi diri sendiri. Hal lain, ketika anak menangis memberikan kompensasi anak makan coklat, nodong anak dengan kata-kata "kalau tidak mau nanti bunda tinggal hlo, kalau tidak mau mandi nanti ada tikus hlo. Apa hubungannya coba ? Pilihan diksi sepeti ini yang malah membuat anak menjadi takut, anak akan mengulangi apa yang pernah kita sampaikan. Bismillah, berbenah dan harus taubat. 

4. Anak itu fitrahnya belajar sampai piawai maka secara simultan dengan perbaikan diri, fasilitasi latihan tumbuh kembang mereka sesuai umur.

Jadi teringat buku Montessori yang saya baca, jatuh hati pada Montessori. Buku ini bukan buku utama dalam mendidik anak ya, ada banyak point' yang jadi catatan pribadi khususnya. Anak kecil suka dengan pengulangan, menuang air diulang-ulang sampai dia puas dan menemukan solusi permainan yang dia mainkan. Beda dengan orang dewasa, buat apa melakukan hal yang sama? Berikan kesempatan anak untuk berproses biarkan dia sendiri yang mencari solusinya. Contoh lain, saat anak belajar memakai celana sendiri. Kalau nak andra seringnya marah jika ingin pakai celana sendiri tapi masih saja saya bantu. Dengan harapan segera selesai kemudian saya melanjutkan aktivitas lainnya. Beda dengan anak, dia ingin menuntaskan sendiri apa yang dilakukan. Butuh kesabaran memang, membersamai anak dimasa ekplorasinya. 

Contoh ini real yang kami alami setiap hari, memang saya menorehkan segala cerita mengasuh yang belum semuanya saya ceritakan disini. Sekaligus mengingatkan diri ini, mumpung anak masih batita, tidak ingin rasanya masa emasnya terlewat begitu saja. 

Dalam Islam, masa kanak-anak dengan rentang usia 2-7 tahun disebut dengan fase thufulah. Fase dimana stimulasi yang diberikan oleh orangtua sangat berdampak kelak anak tumbuh dewasa. Pondasi yang sudah ditanamkan sejak dini inilah yang akan dipakai oleh anak. Memberikan stimulasi keimanan, bersosial, kemandirian, disiplin agar kelak anak bisa beradaptasi dengan baik dilingkungan. 

Psikolog menyebut fase kanak-kanak usia 2-7 tahun adalah masa eksplorasi. Dimana orangura sering dihadapkan dengan problem tingkah laku, misalnya keras kepala, tidak menurut, negativistis, tempertantrums, iri hati, ketakutan yang irationil (tidak masuk akal) pada siang hari dan sebagainya.rasa ingin tahu yang tinggi, selaku bertanya adalah cara umum yang ditunjukkan oleh anak usia 2-7tahun. Berikan wadah dan tempat untuk bereksplorasi, dampingi hingga mereka menguasai dan mengontrol lingkungan dari apa yang dilihat atau dari benda sekitar. 



Sumber Referensi :

https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://www.jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/equality/article/download/792/622&ved=2ahUKEwi-08-S37XvAhVZU30KHSPlBFYQFjACegQIBxAC&usg=AOvVaw2jpHb96eObP3iJydgPMjeJ

https://www.instagram.com/p/CMTg8OMA5Qk/?igshid=1w2ww7r7d9ted


Windi Astuti
Fulltime mom yang suka menulis

Related Posts

Posting Komentar