Apapun yang terjadi, kamu ayah yang hebat. Kalimat ini muncul dari aktris ternama, Nikita Willy. Dalam podcastnya bersama Daehoon Na (20 Juni 2026). #momscorner 102 berjudul Daehoon Na | Aku Ingin Menjadi Tempat Aman untuk Anak-Anak.
Awalnya, aku tidak begitu paham siapa daehon. Maklum, bukan pecinta Korea dalam hal apapun. Lantas, aku cek instagramnya ternyata ada hal menarik yang membuatku memutar podcast momscorner. Iya, berawal dari podcast moms corner aku semakin mengulik si opa ganteng dari Korea Selatan yang sekarang tinggal di Indonesia.
Daehoon Na, seorang publik figur, model dan papa dari 3 anak.
Walau bintang tamu kali ini memang ayah single parent. Jika moms corner sudah undang jadi pembicara, bagiku ada pesan positif yang perlu didengar. Pastinya ada hal positif yang diurai dalam obrolan hangat ini.
Beneran kok, aku nonton dari awal sampai akhir . Banyak sisi parenting dari ayah single parent yang ganteng ini. Berikut beberapa hikmah dan inspirasi parenting yang bisa teman windi ambil positifnya.
1. Tentang disiplin
Displin menjadi ujung tonggak pengasuhan yang Daehoon aplikasikan ke tiga anaknya yang masih kecil. Korea identik dengan disiplin sejak dini. Daehoon menceritakan masa kecilnya yang dididik disiplin di kehidupan sehari-hari, terutama oleh neneknya.
Mulai dari bangun tidur, sekolah dan urusan makan. Tidak heran jika Daehoon itu sangat hafal jam makan ketiga anaknya.
Sejak SD, tepat usia kelas 1 Daehoon sudah di biasakan ke sekolah sendiri dengan jalan kaki. Sisi positif, yang ternyata aku juga sama di posisi Daehoon. Jangan-nanhan kita seumuran. Hahaha .Pulang dan pergi ke sekolah jalan kaki sendiri.
Jika ada hal kurang sopan, Daehoon sudah biasa mendapat sentilan dari sang nenek. Dimarahi atau dipukul. Namun, ingatan pengasuhan ini tidak membuat Daehoon juga memukul anaknya jika melakukan kesalahan.
Itulah bedanya, kalau orang terdahulu lebih menerapkan VOC parenting. Kalau orang tua jaman sekarang, lebih ke gentle parenting. Ada sisi tegas yang diterapkan ke anak agar tahu konsekuensinya.
2. Manner is the one
Sopan santun, diterapkannya dari rumah. Tidak jarang Daehoon akan melihatkan mata besarnya ke anak-anak tatkala ada sikap kurang sopan yang terjadi di ruang makan. Ditambah dengan kalimat nasehat dan larangan jika tingkah anak-anaknya tak sesuai aturan.
Menariknya, mencatut dari kebiasaan orang Korea, untuk anak usia dini tidak boleh diperkenalkan degan apapun yang bersentuhan degan gula.
Daehoon sangat membatasi makanan atau minuman apapun yang mengandung gula. Hanya diberikan ketika anak sakit, atau pas weekand dan intinya di momen tertentu. Sesuai aturan. Disertai penjelasan agar anak paham apa yang dikehendaki sang ayah. Kenapa boleh dan tidak boleh.
3. Screen time oke, tapi ada syarat.
Untuk anak pertamanya cenderung suka menonton. Namun, hanya dibolehkan ketika saat di pesawat dan weekand saja. Begitupun juga kepada dua anaknya yang lain.
Daehoon mengingat juna (anak pertama) suka banget nonton bahkan bisa sampai tujuh jam waktu di pesawat. Tantangan era digital yang begitu besar, serta alasan lain. Membuat Daehoon harus ambil sikap tegas sejak dini.
Kalau ini, kembali kepada kebijakan orang tua masing-masing. Kondisi tiap anak itu beda. Tidak bisa disamaratakan misal, kalau diterapkan ke anak kita akan berhasil belum tentu diterapkan ke anak orang lain tidak berhasil.
Semua kembali pada habit yang diterapkan sejak dini. Mengingat, semua anak membawa caranya masing-masing dalam menyampaikan cara berpikir kritis yang diutarakan ke orang terdekatnya. Hanya orang tua yang paham, parenting apa yang tepat diterapkan ke anak didiknya.
4. Ada kupon berhadiah
Tak ingin ketiga anaknya hanya mau melakukan sesuatu agar dapat hadiah. Opa Daehoon memberikan kupon hanya dikondisi tertentu saja. Yang baginya perlu diberikan ke ketiga anaknya, semata sebagai apresiasi dan bentuk menghargai apa yang sudah dilakukan anak.
Seperti, momen penuh empati saat Juno bisa hadir dan menjaga adiknya. Daehoon dengan sukarela memberikan kupon utuk bisa ditukarkan makanan atau mainan.
Ketika satu tips parenting diterapkan ke anak pertama, Daehoon juga menerapkannya ke anak kedua dan ketiga.
Tarik ulurnya memang kudu pas dalam penerapan. Karena aku melihat dari sisi tegasnya Daehon ini dominan, sepanjang obrolan di podcast nampak banget, triks tersebut efektif untuk ketiga anaknya.
Bahkan untuk beli apapun, Daehoon juga adil membelikan semua ketiga anaknya. Contoh, usai bepergian karena urusan pekerjaan, pulangnya membawa makanan untuk ketiga anaknya.
Sosok inspiring, tegas, ayah panutan dan gantengnya nggak ketulungan, kwkwkwkw.
Keempat hal diatas yang menjadi catatan besarku sebagai orang tua. Sisi unik yang mungkin, bagi kita hal biasa.
Nampak dari hasil kerja kerasanya, Daehoon begitu sabar dan menghayati sebagai bapak. Kalimat menyentuh Daehoon yang bagiku sangat istimewa adalah tak lupa dia memberikan ruang bagi dirinya untuk menghabiskan waktu sendiri tanpa ketiga anaknya, sebagai wujud me time. Bukan bentuk egois dari orang tua. Justru ketika me time sudah terlaksana, energinya full dan bisa memberikan kebahagiaan ke anak-anaknya.
Sepanjang pernyataan tulus dari opa Daehoon, seakan dia juga menyimpan beban yang tidak mudah. Semua paham kan, bab ini? Selain sebagai tulang punggung, sebagai ayah bagi anak-anaknya merupakan peran ganda yang tidak semua laki-laki bisa menyeimbangkan.
Daehoon adalah gambaran para ayah yang sedang berjuang memberkkan tangki cinta penting bagi ketiga anaknya. Ya, walau tidak dipungkiri ada up and downnya.
Titik Balik
Di akhir sesi, pernyataan haru memenuhi iso ruangan. Katanya, "dia tak membatasi ketika besar nanti, mereka bakal bertanya kenapa mama dan papanya berpisah. Daehoon juga tidak menekan, besarnya nanti akan ikut siapa". Pernyataan dewasa yang sebenarnya, bisa saja Daehoon menyimpan rasa kecewa dengan mantan istrinya. Sisi lain, ada malaikat lucu yang wajib dijaga dan dibesarkan.
Sangat menginspirasi dan keren banget Daehoon. Bisa mengupayakan yang terbaik bagi buah hatinya. Menurutku, Daehoon adalah sosok ayah teladan. Dia hadir di fase anak-anak butuh dirangkul. Mingkin, sayapnya patah sebelah karena cerai dengan istrinya, akibat selingkuh.
Ditengah tantangan jaman yang tak bisa disamakan dengan masa kecil Daehoon. Pasti ada harapan, Cita-cita dan doa agar kelak mereka bahagia.
"Akupun, masih ditemani ayah kadang-kadang. Ketika ada tugas diluar kota, ayahku yang masak untuk anak-anak. Sayapun, seringnya masak untuk anak-anak. Karena mereka hafal masakan saya". Cita rasa nya bisa ditebak. Jadi, meskipun ada mbak yang membantu, peran Daehoon tak tergantikan".
Applause untuk Daehoon. Ayah strong.
Terima kasih sudah menyimak. Semoga bermanfaat.









Posting Komentar
Posting Komentar