"Mas, tidak ingin lanjut sekolah lagi to?, tanya saya dengan antusias"
"Buat apa?, jawabnya serius ke arah wajah saya. Lalu berpaling ke arah garapannya".
Sebenarnya awal mulai percakapannya bukan dari sini sih. Saya kepo proses masnya menduplikat kunci. Berujung tanya layaknya reporter yang bertanya-tanya menggali informasi lebih dalam.
Kayaknya si mas ini sudah fix tidak mau lanjut sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Saya pun terdiam sejenak.
"Biar anak saya saja mbak yang sekolah. Saya sudah cukup begini. Penghasilan juga lumayan kok, imbuhnya".
Beda dengan diri saya. Yang kalau menerima gaji satu bulan sekali ditanggal muda. Kalau tanggal tengah ke akhir sudah mulai was-was.
Beda nominal juga dengan si masnya. Bisa dibilang, lebih banyakan dia. Hahaha
Kelihatan dari jawaban si masnya. Tukang ahli kunci terdekat, daerah kweden.
Obrolan singkat ini tetap bermakna bagi saya, dengan pemilik ahli kunci. Walau sebatas usaha ahli kunci, tetap prospek untuk kedepannya. By the way, yang satu daerah dengan saya bisa mampir ke tempat masnya. Ahli kunci terdekat, area kweden Kabupaten Kediri.
Bisnis Ahli Kunci Mendulang Rejeki
Telah melalui berbagai ujian. Pemuda lulusan SMP ini sedang menggemari bisnisnya. Kurang lebih sekitar empat tahunan ini usahanya berjalan.
Bisa dibilang, pendapatannya sudah diambang batas mapan,lumayanlah. Setiap hari pasti ada pemasukan. Kira-kira begitu kalau saya bahasakan.
Bisnis apapun di area sini pasti laku. Misal, modal pintar masak, jual makanan pasti laku mbak, imbuhnya.
Saya pun mangguk-mangguk
Ya benar sih, sebab sepanjang jalan ini dipenuhi karyawan gudang garam.
Obrolan semakin seru. Saya pun makin penasaran dengan jawaban frontal masnya.
Pasalnya, saya tanya mau lanjut sekolah atau tidak. Jawabnya tegas, tidak. Sudah ada di zona nyaman.
Saya mencoba berdamai dengan jawaban tersebut. Dalam pikiran saya, mumpung masih muda dan punya kesempatan belajar harusnya tetap sekolah tinggi dong. Hemmmm.
Saya salut, upayanya yang keras membawanya pada titik yang sekarang. Sebelumnya, masnya ini ikut orang di luar kota. Jadi buruh ahli kunci.
Pada prosesnya, dia belajar mandiri. Nekat, ingin punya sendiri bisnis ahli kunci.
Modalnya cukup besar. Satu alat, kisaran 15 juta. Harga tersebut masih yang standar, katanya. Ada harga yang lebih besar dan tentunya alatnya makin canggih.
Saya lihat, mas e punya dua alat.
"Wah, cukup besar juga ya mas modalnya?, tanya saya".
" Iya mbak. Dulu saya nekad jual motor. Satu-satunya kendaraan yang saya punya harus direlakan untuk dijual. Itu pasca bangkrut. Nekat ambil hutang di bank BRI lewat KUR. Alhamdulillah, rejekinya ditempat ini. Cukup ramai pelanggan".
Pada waktu itu, mungkin terasa banget perjuangan masnya ya. Bagi saya, sangat luar biasa. Pemuda lukisan SMP punya mental pengusaha yang tangguh.
Hingga aku berpikir demikian. Ternyata, pemilihan tempat usaha itu berpengaruh. Kalau saya amati, area jalan yang dipilih mase ini memang strategis. Dilewati banyak pengendara. Bisa dibilang jalan utama lewat para pekerja .
Kegigihan masnya dapat mengubah nasib. Masnya sudah berkeluarga. Juga dikaruniai seorang anak.
Cukup punya bakat juga, sebagai ahli kunci dan terampil.
Saat ini, masnya juga punya satu lagi usaha ahli kunci yang dipegang sang adik.
Cukup visioner sebagai generasi Z. Mengingat, sejak dini kondisinya membuat harus banting stir. Konon masnya ini orang tuanya sudah cukup tua ketika dilahirkan. Lantaran hal itulah, masnya berfikir panjang. Tidak mau menyusahkan orang tuanya dengan biaya pendidikan sekolah tinggi jika memilih lanjut sekolah.
Nekat Saja tidak Cukup, Daya Juang Tinggi itu Perlu
Sabar, terampil dan cukup berbakat. Mungkin karena terbiasa, Lama-lama jadi bisa dan ahli.
"Mas kalau dicermati yang pintar ini alatnya atau orangnya?. Pertanyaan lucu yang utarakan langsung. Karena saya tercengang dengan omzetnya.
" Yang pintar alatnya mbak"
"Apa pernah terjadi gagal saat duplikat kunci mas? "
"Ya pernah mbak. Manusiawi, manusia juga punya keterbatasan"
Saya mangguk-mangguk. Benar juga ya, dalam hati.
Mas, misal saya disuruh seperti samean pasti belum bisa. Mental saya tidak setangguh samean. Saya terbiasa dapat gaji rutin tiap bulan. Paling ya bisanya hemat kalau mendekati tanggal tua.
"Masnya cuma diam. Mungkin mbatin, pekerja kantoran kali ya "
Memaknai Rejeki dari Mas-mas lulusan SMP
Sama sekali tidak iri dengan kehidupan masnya tidak pula menyayangkan, masih muda namun jalan yang dipilihnya hanya sekolah dan lulus sampai SMP saja.
Baginya, keputusannya yang sekarang adalah yang terbaik. Nyatanya, masnya mau ambil KUR lagi untuk memperbesar usahanya. Nggak main-main kan?
Dari ijasah, lulusan mas e hanya lulus SMP sedangkan saya ? Bukan untuk membandingkan. Manusia bijak, tahu bagaimana akan bertindak.
Setiap dari kita memang punya ceritanya masing-masing. Kali ini, saya belajar dari seorang pemuda tangguh yang berjuang demi menafkahi keluarganya dengan cara membangun bisnis ahli kunci.
Dengan segala keterbatasannya, masnya tetap teguh pendirian. Masnya memilih hanya sekolah sampe SMP karena kondisinya. Orang tuanya sudah renta dan lingkungan yang membentuk cara berfikirnya. Lebih baik bekerja keras daripada harus berfikir di bangku sekolah.
Setiap manusia punya pilihan. Mau jadi apapun diri kita, menjadi pengusaha sejak dini bukan hal yang mudah. Terlebih agar nasib anak dan keturunan semakin baik.
Pernah diambang bangkrut, namun mas e tetap kembali berdiri tegak dan usahanya lebih berkembang.
Bagi saya, pendidikan tetap nomor satu. Siapapun yang menuntut ilmu setinggi mungkin, Allah akan mengangkat derajat umatnya.
Bukan untuk sambong ya. Munkin saya lebih menang dari sisi punya lingkungan yang lebih baik dari masnya. Lingkungan yang mengedepankan pendidikan. Saya juga lebih tahu kondisi remaja awal berkat passion sebagai guru BK. Ilmu yang saya dapatkan dari mengajar di sekolah bisa menjadi amal jariyah (insha allah).
Sometimes, saya juga akan berada di titik mapan pada waktunya. Sama-sama diuji sabar agar saya dan masnya terus berjuang bertahan hidup.
Rejeki tak melulu mendapatkan uang bulanan/harian yang fantastik. Tentang badan yang sehat, iman yang tetap terjaga ketika diuji. Dapat lebih care dengan kesehatan juga rejeki. Lingkungan yang support untuk berbenah diri.
Mungkin mase juga telah menyiapkan masa depan yang lebih baik untuk dirinya dan keluarga kecilnya. Begitupun dengan saya.
Dari obrolan singkat ini, saya juga ingin bikin usaha duplikat kunci, suatu saat nanti. Terinspirasi dari masnya.
Namun, satu hal yang menjadi pertimbangan besar. Ketika ada seorang yang ke ahli kunci untuk duplikat kunci motor curiannya. Lantas, apa tukang ahli kunci ikut mendapatkan dosanya juga? Wallohu alam bisshowab.
Semoga Allah selalu menjaga kita, dimudahkan dalam menjemput rejeki yang Allah Ridlo.








Posting Komentar
Posting Komentar