Advertisement

Main Ad

Menulis Novel Anak yang Keren

Mengosongkan gelas lagi, demi menjemput ilmu bab novel anak. Jujur, aku butuh referensi mengenal penulis senior di Indonesia yang sudah melanglang buana dengan segudang pengalaman baik suka maupun dukanya. Nggak dibahas detail sih dukanya, lebih kepencapaian dan strugglenya dalam berkarya yang tak hanya sebatas menulis namun juga melakukan riset demi menciptakan hal baru yang sebenarnya sudah lama ada di negara barat. Yaitu tentang verse novel, coba saja nyari buku beginian di Indonesia. Pasti cuma ada satu " ganes"


Garuda gaganeswara, seorang anak laki-laki berusia 11 tahun bernama Ganes yang suka verse novel. Ibunya seorang editor dan ayahnya seorang penulis. Diusianya Ganes suka berfantasi dengan mengeluarkan emosi dan pemikirannya lewat puisi. Agak misteri dan mengandung teka-teki. Mendengar penjelasan Mbak Ary Nilandari sebagai narasumbernya, aku sedikit konek yang awalnya berfikir keras istilah apa ini verse novel. Sambil mengeluarkan catatan materi agar tidak kelewat ditulis. Corat-coret dulu nulis artikel diblognya kemudian. 

Verse novel ini merupakan format baru di Indonesia, yang sebenarnya sudah lama ada dibarat sejak tahun 80an kalau tidak salah. Mbak Ary terinspirasi ingin mengenalkan format baru ini di Indonesia karena pernah ikut acara menulis bersama Holly Thomps pada tahun 2015/2016. Yang ketika mbak Ary membaca banyak referensi dari barat, kemudian menemukan insight dan menantang dirinya bahwa beliaupun bisa membuat karya seperti ini. Dicobalah beliau dengan melakukan riset dulu, menulis di whatpadd yang mana antusias para pembaca selalu positif. Bacanya cepat dan isinya lengkap, kurang lebih begitu komentar pembaca setia karya mbak Ary ini. 

Yang biasanya membaca novel harus berhari-hari, verse novel dengan 250hal yang isinya puisi semua dan beruntun ini bisa dinikmati hanya dua jam saja untuk membaca semua. Novel yang disampaikan melalui puisi alih-alih prosa dengan mempeetahankan semua unsur diksinya ini membuat mbak Ary bingung menyebutkan istilah yang pas agar bisa diterima oleh pembaca di Indonesia. Hingga ketemulah istilah novel bait sebagai upaya bisa diterima pula oleh editor Republika. Nggak main-main hlo dalam meyakinkan Republika untuk mencetak 2000 eksemplar karya verse novel pertama ini? Mbak arypun menyelipkan bukti foto bahwa verse novel ini ada dan sudah ada sejak dulu. Hanya saja ini format baru di Indonesia. Setelah mbak Andri mengecek semua konsep isinya dan kualitasnya, fiks deh mbak . Mantap ya, kita cetak karya ini. Kurang lebih begitu obrolan mereka, yang membuat mbak Ary diluar dugaan ada apresiasi positif menerima visi dan misi yang ingin diperjuangkan oleh mbak Ary mengisi sumber bacaan yang masih langka di Indonesia. 

Sumber referensi yang dibaca Mbak Ary

Novel remaja belum marak, adanya novel dewasa yang ditulis oleh penulis Indonesia. Banyaknya picture book dan  buku anak-anak, ternyata buku untuk usia 7-12 tahun ini yang belum ada. Kebanyakan anak-anak lari ke novel dewasa karena sumber bacaan anak yang minim. Ini menjadi peluang besar bagi penulis, namun untuk mendalami verse novel ini butuh usaha dan kemauan keras untuk mendalaminya. Butuh banyak membaca referensi yang ada. Saat saya tanya ke mbak Ary referensinya bisa didapatkan dimana dan bagaimana, beliau menjawab masih cukup sulit. Kalau dicari diperpuspun paling cuma ada satu, dan itupun tidak semua perpustakaan ada. Diarahkan untuk membaca buku Garuda gaganeswara, puisi karya pak Sapardi Djoko Damono, buku kang iwok, karya kang Aan dan lainnya. Memadukan novel anak itu seperti apa bahasa dan yang paling banyak diminati anak, gaya bahasa dan lain-lain butuh riset cerdas memang. Salut banget dengan pencapaian dan niatan mbak Ary yang akhirnya bisa membuahkan karya verse novel ini. 

Untuk menuliskan satu puisi saja butuh waktu dua minggu, karena menulis untuk membuat bentuk seperti puting beliung, pohon ataupun gerbang misalnya. Dalam pengeditan tak boleh mengubah layout, jika diubah akan merusak bentuk. Hak ini bisa disiasti dengan ilustrasi manual. Itu salah satu tantangan yang disampaikan mbak Ary. Ada juga unsur puisi dan novel yang harus diperhatikan , sebagai berikut. 

Tak perlu muluk dalam menuliskan puisi,bebas kok, menggunakan bahasa yang sederhana dan bebas. Bahkan penulis pun bebas dalam membuat aturan. Tidak perlu memperhatikan Rima dan berirama layaknya puisi dengan bahasa yang sulit dimengerti. Bait pendek maupun panjang yang penting fokus keceritanya, pun tidak perlu menghitung suku kata. Kunci utama, imajinasi penulis wajib untuk dimainkan. Berikut contoh bentuk verse novel yang saya ambil saat materi : 

Gimana, tertarik untuk membuat karya yang sama seperti halnya yang pernah dilakukan oleh mbak Ary ? Buat saja, karena Republika akan tetap mempertimbangkan karya dengan konsep matang dan kualitasnya sudah diperhitungkan. Buatlah karya sungguh-sungguh, untuk mengisi kekosongan sumber bacaan anak-anakl sebagaimana tadi yang disampaikan diatas. Waktu dikandungan, bayi anak balita dibelikan buku-buku bergizi. Giliran anak sudah bisa baca diusia 7-8 tahun, tidak lagi dibelikan buku oleh orangtuanya. Mari putuskan mata rantai yang membuat problem ini agar  segera selesai. Biar tidak ada jeda sumber bacaan remaja awal beralih ke novel dewasa. Itulah harapan yang saya kutip dari mbak Ary, yang tentunya bagi penulis pemula seperti saya butuh dorongan dan mentor serta belajar keras untuk menciptakan verse novel dengan judul beda. Tarik nafas panjang dulu deh ya 🤭.


Dilanjut narasumber ketiga, kang Iwok dengan segudang prestasi. Sampai -sampai yang dibacakan achievement oleh kak Dian Onasis selaku moderator dan host hanya yang tahun 2020-2021 . Saking banyaknya prestasi yang disabet oleh kang Iwok. Beri aplause dulu deh ya , sambil geleng kepala aku 😊. Tak dapat kurekam semua pada sesi ini, kusambi nganter anak ke kamar mandi karena buang hajat. 

Karya kang Iwok yang ternyata tidak aku tahu sebelumnya. Ya Allah, kemana saja aku dengan karya sepeda onthel Kinanti . Novel yang diangkat kelayar kaca pada tahun 2015 ini dipilih produser dari tumpukan buku bekas novel anak-anak . 

Tidak pernah disangka sebelumnya oleh kang Iwok, kalau karyanya dilirik oleh produsen. Setiap novel anak yang difilmkan karya kang Iwok ini ada kisah dan keseruan tersendiri dalam proses menulisnya. Seperti novel anak yang berjudul King ini berhasil di filmkan dan di bedah di Kick Andy. Ditulis dalam bentuk draft selama 5 hari demi launchingnya film sekaligus akan dikupas di kick Andy. Luarbiasa perjuangan kang Iwok. 

Beda lagi keseruannya dengan menuliskan novel Knight Kris ini. Novel yang ditulis berdasar story' board dan belum ada naskah skenario ini membuat kang Iwok berfikir keras. Apalagi pas proses revisi, yang awalnya 80 halaman harus dipangkas menjadi 40 halaman. Bahkan untuk seraching bahan sebelum menulis kang Iwok harus benar-benar faham tokohnya siapa dan karakternya bagaimana. 

Apalagi yang bersinggungan dengan novel anak yang mengusung tema sejarah seperti the battle of Surabaya. Kang Iwok harus faham dulu sejarahnya. Nggak boleh main-main dalam berkarya. 

Ada tips yang dibagikan oleh kang Iwok, sebagai gambaran sekaligus inspirasi dari pengalaman beliau menulis novel anak. Semoga bermanfaat . 




Posting Komentar

3 Komentar

  1. Ganes itu bukan anak perempuan, dia anak laki2. Dia enggak hobi nulis puisi. Novelnya yg ditulis dlm bentuk verse novel. Saya punya dan sudah baca bukunya.

    BalasHapus
  2. Ganes sendiri penyuka novel verse. Jadi bukan penulis puisi. Makasih sharingnya ya.... Oh iya, yang dibahas kang Iwok di Kick Andi adalah buku The King. Jangan lupa ikuti lagi minggu depan ya. sharing bareng penerbit, kemudian penulis yang dapat beasiswa riset ke LN untuk naskahnya serta platform menulis yang ramai dibicarakan sekarang ini.

    BalasHapus