Terbiasa karena biasa. Menuntut ilmu bukan karena disuruh atasan. Justru atas dasar kemauan sendiri niat itu membentuk cara berpikir ku. Menjadi guru milenial yang adaptif
Saya suka mengikuti pelatihan tanpa disuruh. Entah itu dalam bentuk seminar/pelatihan yang diadakan online maupun offline. Selama waktu bisa diatur, tidak masalah.
Pendidik adalah profesi yang mulia, yang dihadapi adalah manusia. Mau tidak mau saya harus upgrade skill.
Tantangan itu pasti, sedangkan generasinya selalu berganti. Tak mungkin ilmu yang saya dapatkan dibangku kuliah cukup menjadi bekal menjadi guru era sekarang. Apalagi teknologi dalam pendidikan menjadi hal mutlak yang harus dipraktikkan. Menjadi fasilitator murid sekaligus menjadi kompas agar makin bijak dan bertanggung jawab sebagai pengguna teknologi perlu ditanamkan sejak dini.
Pengalamanku mengikuti pelatihan pendidikan guru penggerak di tahun 2024 masih menyisakan kerinduan yang sebagian ceritanya ingin saya ceritakan lewat tulisan ini.
Kesan Mendalam dari Alur Penerimaan Hingga Lulus Seleksi
Proses yang tidak sebentar. Satu langkah penuh kepercayaan saya tempuh untuk meluaskan manfaat dan relasi. Perjalanan saya mulai dari sini.
Awal pendaftaran saya melengkapi essai hingga berlembar-lembar. Agar lolos administrasi. Dan masuk ke tahap ujian lisan serta tahapan berikutnya.
Memasuki seleksi wawancara dari essai yang saya buat dengan penuh kesungguhan. Tidak menyangka, niat awal untuk meningkatkan skill diberikan kesempatan oleh Kementerian Pendidikan Pusat. Saya lulus seleksi. Justru, teman-teman saya yang menggebu-gebu diawal ingin ikut Pendidikan Guru Penggerak, malah tidak lulus.
Memaknai Konsep Pendidikan Yang Memerdekakan
Jika saya tidak mengikuti rangkaian Pendidikan Guru Penggerak yang diinisiasi oleh Kemdikbud, saya tidak akan mengerti bagaimana caranya memanusiakan murid di era teknologi seperti sekarang ini.
Pendidik disini berperan sebagai penuntun, pamong, teladan dan pendamping yang mendampingi murid untuk mencapai beberapa perkembangan. Mulai dari perkembangan intelektual, emosional, sosial dan karakter.
Perkembangan yang dituju ini akan menjadi bekal anak bangsa kelak dalam menjalani kehidupan beserta tantangan-tantangannya.
Konsep inti pendidikan yang memerdekaan adalah murid merasakan merdeka secara lahir dan batin. Tidak ada tekanan atau paksaan dalam proses belajar. Memberikan ruang murid untuk berpikir dan bertumbuh dengan penuh tanggung jawab.
Murid juga memiliki anugerah berupa potensi, bakat dan minat yang bisa menjadi alat mereka untuk berkembang dan bertumbuh menjadi manusia yang bermanfaat. Semua ini, tidak akan berhasil jika hanya pendidik saja yang berperan. Kolaborasi antara orang tua dan masyarakat ikut serta membentuk nilai-nilai budi pekerti.
Pendidik yang Adaptif dan Kehadiran AI
Saya yakin, ini adalah awal perubahan untuk hal yang lebih baik. Ketika pendidik memahami konsep inti pendidikan yang memerdekakan menjadi satu langkah pasti mewujudkan perubahan pendidikan yang semakin baik.
Pendidik tidak hanya terbatas mengikuti peningkatan kompetensi di komunitas intern guru saja. Banyak ruang belajar untuk membantu upgrade skill secara luas. Tidak ada salahnya kan, mencoba dan mentarget untuk setiap tahun ikut program peningkatan kompetensi guru ?
Selama program yang diadakan untuk kebaikan bersama dengan arah kemajuan pendidikan, why not?
Tentunya, ikut andil guru di dalamnya pasti ada. Guru sebagai pendidik, teladan, fasilitator dan kompas arah pendidikan adalah buah pemikiran K.H Dewantara. Sosok Ahli Pendidikan ini mengajak para guru agar memandang murid memiliki karakter baik yang nantinya bisa diterapkan dalam keluarga dan diimplikasikan di kehidupan sosial.
Kurikulum merdeka bukan hanya sebatas narasi. Secara tidak langsung adanya musibah corona yang tidak hanya menimpa negara Indonesia, adalah bukti bagaimana pendidikan tetap harus berjalan. Kondisi dan tantangan bukan menjadi halangan. Justru ini adalah bagian dari perubahan yang menuntut semua harus adaptif. Terutama peran dari guru dan orang tua. Mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan dan mendalam.
Pembelajaran berbasis teknologi yang dulu dimulai sejak corona, berlanjut sampai sekarang kan ?
Mengingat generasi yang masuk dalam usia pelajar adalah mereka dari generasi Z dan sebagian dari generasi Alpha. Mereka adalah generasi digital native yang cara belajarnya tidak akan menarik jika disajikan dengan hanya metode ceramah.
Pendidik tetap punya peran besar terhadap pendidikan. Meskipun kehadiran AI cukup menggeser peran utama guru. Tetap tidak bisa digantikan secara penuh keberadaannya. Murid tetap butuh dituntun. Teknologi hanya sebatas alat bantu yang memperluas sarana dan prasarana ruang belajar murid untuk mendapatkan kesempatan. Dapat berpartisipasi aktif membentuk ruang belajar yang nyaman dan aman dengan penuh tanggung jawab.
Pendidik disini sebagai pendamping. Agar murid dapat menentukan pilihan belajarnya. Menetapkan tujuan belajarnya sekaligus menavigasi lingkungan digital.
Murid mempunyai bakat dan minat yang secara kodrat butuh dibantu untuk mengembangkan. Jika pembelajaran monoton dan tidak menarik, murid tidak akan semangat untuk mengikuti pembelajaran.
Pendidik juga harus paham arah transformasi digital dalam pendidikan. Adanya pelatihan pendidik dan pemimpin sekolah, adalah upaya untuk menciptakan budaya kepercayaan dan transparansi dalam pengembangan kapasitas digital. Oleh sebab itu, pendidik harus adaptif.
Kelekatan yang Hangat dari Lingkungan Pendidikan
Beberapa hal tak terprediksi, satu persatu keuntungannya saya rasakan. Saya meyakini, ini bagian dari percepatan gerak langkah sebagai wujud adaptasi imbas corona. Saya mau ikut serta didalamnya.
Sistem pembelajaran yang dihadirkan sangat terstruktur. Teori yang disajikan dalam materi ajar sangat mudah untuk dipahami. Membentuk pola pikir bahwa murid harus mencapai kemerdekaannya untuk mencapai kebahagiaan setinggi-tingginya.
Bukan hanya ilmu baru yang saya dapatkan bersama teman-teman. Dapat menambah saudara dari fasilitator luar Jawa dan pengajar praktik dari lintas sekolah. Semangat perubahan dan nilai-nilai karakter baik bagi guru semakin meresap dalam tubuh.
Meningkatkan hubungan relasi dengan teman sekelompok, bahkan diskusi semakin hidup dan menyenangkan ketika event tatap muka secara offline. Sebulan sekali pasti ada event diskusi secara tatap muka dengan semua peserta dan pengajar praktik Pendidikan Guru Penggerak (PGP).
Rangkaian acara yang penuh kehangatan namun mengalirkan energi perubahan. Sajian hidangan, kebersamaan yang dihadirkan oleh panitia yang selalu dibersamai BBGTK Jatim kala itu. Memberikan dukungan yang benar-benar totalitas. Support moral dan materi sangat lengkap. Beberapa souvenir diakhir sesi offline menambah semangat tersendiri. Bukan agar forum offline segera selesai. Justru kalau bisa dipanjangkan sampai besok. Entah kapan.
Souvenir ini akan menjadikan kenangan, kelekatan dan kebaikan yang menjadi sumber energi untuk terus bergerak dan menggerakkan roda pendidikan agar semakin maju.
Bagiku, ini bagian dari apresiasi bahwa menuntut ilmu adalah hal istimewa yang tidak semua terketuk untuk melakukannya.
Ada waktu yang harus diluangkan. Ada anggota keluarga yang harus ditinggalkan sementara. Ada tenaga dan pikiran yang dikeluarkan untuk memikirkan masa depan melalui sebuah pelatihan. Ada hal-hal besar yang disiapkan untuk merespon perubahan dengan cara yang sederhana, yakni dengan belajar di event pelatihan.
Saya selalu mengapresiasi kerja keras panitia dan tim yang menyelenggarakan event berkualitas. Terlebih memberikan apresiasi souvenir sebagai wujud tanda cinta. Sangat memanusiakan manusia.
Saya memaknai ada pesan mendalam yang perlu teman-teman tahu dari sini
1. Memperkuat Hubungan Sosial
Dari barang kecil yang diberikan, memperkuat hubungan antara pemberi dan penerima. Saya termasuk orang yang akan menjaga dengan baik benda yang diberikan siapapun. Jika barangnya bisa digunakan untuk mendukung proses belajar mengajar, justru ini memberikan dampak yang lebih luas bukan ?
2. Memberikan Kepuasan Emosional Bagi Penerima
Seperti dibayar tunai. Meski secara emosional tidak terkonek setiap hari. Melalui barang bernama souvenir, akan mengingatkan pada event, pemberi dan materi yang akan tersimpan lebih lama di memori otak.
3. Membangun Kepercayaan Brand/Instansi
Sejak awal daftar di Pendidikan Guru Penggerak tidak memikirkan soal benefit materiilnya. Yang ada dalam pikiran adalah bagaimana diri saya dapat berdampak setelah event ini selesai. Souvenir adalah bonus. Yang tidak mengurangi niat diawal untuk menimba ilmu melalui pelatihan atau seminar. Ini bentuk memberikan kepercayaan. Siapa yang hadir menimba ilmu dapat bonus kenang-kenangan. Siapa yang bersungguh-sungguh belajar , ditunggu praktiknya ya ! #notetoself
Saya memaknai, ini adalah bentuk kesungguhan pemerintah mengajak para pendidik melakukan perubahan yang dimulai sekarang.
Semakin sering saya mengikuti pelatihan atau seminar dan semacamnya. Jika ada seminar kit atau souvenir tidak masalah. Karena yang saya cari adalah ilmunya. Namun, jika ada ya akan saya rawat dan gunakan sebaik mungkin. Panitia dan penyelenggara pasti sudah memikirkannya.
Jika nanti di Komunitasku Guru Penggerak Kota Kediri mengadakan event pengembangan diri sebagai pendidik, seminar kit bisa jadi pertimbangan. Lagian, kemarin sempet scroll dan melihat di websitenya Mahada . Ada paket seminar kit yang bisa jadi bahan untuk dirundingkan di komunitas.
Bagaimana dengan keseruan teman pendidik mengikuti pelatihan/ seminar ? Yuk sharing disini apa kesan mendalam yang kamu ingat ?









Posting Komentar
Posting Komentar