"Um, saya itu pernah merasa bersalah pada diri sendiri. Waktu itu, karir saya sedang memuncak. Namun, ada kejadian yang membuat saya bertanya pada guru ngaji. " Ustad, apa yang harus saya lakukan untuk anak pertama saya. Tiap kali saya tanya mau kuliah dimana, jawabannya melengos" , begitu seterusnya. Saya merasa sedih, saya kan psikolog dan bidang yang saya kerjakan di kantor adalah membangun komunikasi. Sedangkan, saya sendiri tidak mampu melakukan praktik baik ke orang terdekat saya. Apa baiknya saya resign saja ? Apa yang harus saya lakukan? "
Kisah psikolog Intan Erlita ini membuat aku tersentuh. Sekaligus meraba diri sendiri.
Hatiku runtuh mendengar pernyataan jujurnya. Kalimat yang kudengar dengan seksama walau hanya dari podcast. Sungguh, membuat refleksi pada diriku sendiri.
Bermula dari Ini : Peran Ibu Sangat Penting dalam Pengasuhan Anak Remaja
Sedikit cerita. Sebenarnya, awal jadi ibu berkarir, satu hal ini yang ku khawatirkan. Terlalu fokus ke karir. Jadinya, lupa akan tanggung jawab sebagai ibu sekaligus istri.
Aku mengira, orang ahli yang mendapati gelar profesional dalam bidangnya, tidak mengalami kegagalan dalam mempraktikkan ilmunya ke dalam rumah tangga. Ternyata......
Mungkin ini yang dinamakan manusia. Sebenar-benarnya manusia. Se profesional apapun karir, akan diuji juga keahlian ilmunya.
Jika malaikat diciptakan sebagai tangan kanan Allah, terbuat dari Nur (cahaya) yang tidak pernah melakukan kesalahan. Beda dengan manusia, yang justru diciptakan sebagai khalifah di muka bumi. Jika berada dalam jalan kebenaran, justru kebaikannya dapat mengubah dunia.
Balik lagi, pada kisah ibu intan Erlita, yang mengaku gagal menjadi ibu di angka usia anak 16 tahun.
"Perbaiki dulu hubunganmu sama Allah, fokus itu dulu. Berdzikirlah, maka Allah akan beri kamu jalan. Anakmu yang sekarang, adalah hasil didikanmu selama 16 tahun. Jadi, jangan menyalahkan orang lain. Karena ini bagian dari apa yang sudah kamu lakukan selama ini ". Jawaban Pak Ustad yang ditanyai persoalan bu Erlita.
"Seketika aku langsung menangis tak berkesudahan. Selama perjalanan 30 menit di mobil, tangan rasanya kaku. Sulit untuk menyetater, imbuh Bu Erlita"
Masa Remaja adalah akumulasi dari masa-masa sebelumnya. Pengasuhan yang belum lengkap di masa periode sebelumnya. Akan jadi tamparan keras bagi ibu, masa remajanya akan butuh pegangan.
Kedekatan ibu-anak secara emosional,berpengaruh besar terhadap masa pubertasnya.
Apalagi, masa remaja adalah masa yang mengalami perubahan. Perubahan jati diri. Mulai dari perubahan fisik, emosional dan sosial. Mereka belum cukup umur untuk mampu menghadapi tantangan-tantangannya dalam mengambil keputusan, menghadapi masalah dan lainnya. tetap harus diarahkan.
Pada prosesnya, Bu Erlita bergegas, berbenah diri. Alhamdulillah nya, semua dimudahkan. Kembali ke pelukan. Si anak pertamanya lebih dekat dengan si ibu.
Ibu gentle yang rendah hati, aku menyebutnya. Tak ada tedeng atau aling-aling apapun saat menyampaikan kisahnya di podcast cintaquranTVOfficial.
Ibu tak hanya memberikan fasilitas yang baik. Sekolah yang terbaik. Kebutuhan yang terbukti, tapi, menghacurkan dari dalam diri sendiri akan mentalnya. Terlalu sibuk, hingga si anak tak diperhatikan. Komunikasipun jarang.
Yang katanya menunggui di sebelah anak. Tapi malah ditinggal main gadget. Ini juga tak bagus.
Yang mengaku kamu profesional, belajar parenting tiap tahun tapi, kalau tidak diaplikasikan ke anak ya sama saja bohong.#notetoself
Memaknai Peran Ibu : Menjawab Tantangan Pengasuhan
Tidak semua perempuan berkesempatan menjadi ibu. Kadang karir memang menguji kapasitas dan kapabilitas sebagai manusia. Ketika ibu adalah pemberi kasih sayang anak-anak dirumah, tempat kembali pulang dan testimoni terbaik adalah anak-anak.
Tugas sebagai manusia melakukan refleksi. Sejauh mana telah ambil peran, mengembannya dan menuntaskannya sebaik mungkin. Kelak, kita semua akan mendapatkan raport dengan nilai yang sesuai dengan apa yang kita upayakan.
Sebenarnya, ibu adalah gelar yang tak tertandingi. Tak ada kurikulum yang pasti untuk jadi ibu. Bahkan, sekolahnya juga tidak ada secara formal.
Allah mensetting hormon kasih sayang kepada ibu. Tepat saat tangisan bayi itu lahir di dunia. Semua terasa indah. Semestapun memberikan senyuman dan apresiasi kepada ibu.
Seiring berjalannya waktu. Kadang kita lupa, bahwa perjuangan yang dimulai sejak tersemat peran ibu, karir menjadikan kita lupa akan peran utama dari rumah. Bernama (tantangan ) pengasuhan.
Catatan Penting dari Psikolog Ibu Erlita
Dari sepenggal kisah inspiratif Bu Erlita, aku mengambil hikmah bahwa :
1. Ibu, sosok yang paling berpengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak.
Anak tidak butuh gelar banyak diujung nama. Anak tidak butuh ibunya terkenal, naik jabatan. Anak hanya butuh pelukan kasih sayang, rangkulan dan sandaran bahu ketika anak butuh arahan. Ibu hadir yang pertama menjadi pereda keadaan yang serba tidak pasti.
Ibu berkarir, yang kadang di silaukan dengan predikat dan apresiasi yang bagus dari banyak orang. Justru mengorbankan satu jiwa bernama anak. Waktu terkuras untuk pekerjaan, hingga berdampak pada quality time pada sang buah hati.
Ini juga aku rasakan. Ketika potensiku cukup oke di sekolah. Kesempatan terbuka luas, aku masih takut. Takut tidak bisa menyeimbangkan karir dan peran ku di rumah.
Melalui hubungan long distance marriage, aku bersyukur. Status ini yang menyelamatkanku dari naiknya tingkatan karir, yang kadang aku pun ingin mencoba upgrade ilmu yang mengarah pada peningkatan karir.
2. Anak remaja tetap butuh arahan
Seperti yang juga kutemui di lapangan. Remaja gen Z usia belasan tahun tetap butuh diarahkan, dibimbing, dinasehati dan diberi rangkulan. Mereka butuh ruang untuk menampung cerita. Sekedar bertukar pikiran.
Saat orang tua menganggap anak remaja usia belasan tahun sudah bisa mandiri. Justru mereka butuh juga rangkulan dan kasih sayang. Meski perlakuan tidak harus seperti ketika anak masih TK atau SD, perhatian penuh juga mereka harapkan.
Jadi teringat salah seorang muridku yang bercerita masalah pribadinya. Dia ingin memberi tahu ke ibu dan bapaknya kalau dia selama ini menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang disebut pacarnya. Aku dengarkan curhatannya. Sekaligus mengingatkan dia untuk tetap jaga diri.
Yang ada, orang tua tidak selalu mampu menempatkan posisinya sebagai teman. Untungnya, muridku ini cukup dewasa sebagai remaja. Tetap ku arahkan untuk terbuka dengan neneknya. Sewaktu-waktu butuh tempat curhat, saudara nya hadir di waktu yang tepat.
Tetap kutanya juga kabarnya. Ini bisa jadi referensi ku menghadapi anakku kelak nanti. Di masa remajanya. Besar harapan, semoga selalu terbuka dengan ibu dan ayahnya.
3. Ketika tangki cinta penuh kasih sayang, anak mudah diarahkan
Sesederhana itu. Kepercayaan yang dibangun sejak dini oleh ibu, berperan penting membawa arah kendali anak dalam mengambil keputusan. Meski tidak semua, apa-apa yang disampaikan seorang ibu akan selalu diingat, dikenang dan digunakan sebagai patokan anak dalam mengambil tindakan.
Penting, ini disadari oleh semua orang tua. Sekaligus modal utama menanamkan kebaikan, karakter dan pondasi yang kuat agar anak ketika bersinggungan dengan lingkungan, teman dan sosialnya anak bisa menjadi pengambil keputusan bijak yang penuh percaya diri.
Hal ini, juga pernah ku tanyakan langsung ke muridku yang sering melakukan pelanggaran di sekolah. Dia merasakan betul, kurangnya kasih sayang cukup berpengaruh pada anak dalam mengambil keputusan.
Ku tanyakan juga pada muridku yang mendapatkan kasih sayang penuh. Diberi dukungan untuk mengeskplore kemampuannya. Terbuka dengan orang tuanya. Serta merasa disayangi dan diperhatikan. Menjadi sumber energi bagi anak untuk berproses menerima kenyataan hidup dan merajut cita-citanya sejak dini.
Penutup
Pengakuan jujur yang disampaikan Bu Erlita, tidak kumaknai sebagai wadah membuka aib. Justru, pengakuan tersebut membuatku merasa tersentuh. Darinya, jangan sampai penonton termasuk aku melakukan hal yang sama.
Ketika diri membutuhkan bantuan, pilihlah lingkungan yang tepat dan support. Jika salah dalam mencari petunjuk, justru akan menjerumuskan dalam kubangan yang lebih dalam.
Tugas sebagai orang tua bukan hal yang mudah. Menjadi pembelajar sepanjang hayat, adalah pilihan terbaik. Berbenah dan mengakui kesalahan adalah aksi nyata. Bahwa ibu, ssosok yang tulus mencintai.








Posting Komentar
Posting Komentar