Pentingnya Spesial Time Bersama Anak

Kebahagiaan bagi setiap ibu adalah bisa melihat pertumbuhan dan perkembangan anak secara langsung. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dari tengkurap, duduk, merangkak, berdiri kemudian berjalan dan berlari. Jika mengingat kapan anak bisa melakukan itu, sangat mengesankan dan membuat bahagia seorang ibu. Anak bisa melewati step by step sesuai dengan usianya. 


Tidak pernah berfikir sepanjang ini, saat masih single ingin segera menikah, dan punya bayangan kalau hidup sudah ada yang menanggung kebutuhan hidup kan enak . Menikah, kemudian punya anak dan sebagainya. Jalan membangun rumah tangga itu tidak mudah ferguso. Ada kesiapan lahir dan batin yang harus ditunaikan secara matang dan tentunya dengan ikhtiar keras dengan melibatkan Allah didalamnya. Agar apa yang dilakukan bernilai berkah, tak hanya keinginan ego semata. 

Kembali ke pembahasan. 

Rasa bahagia benar-benar saya rasakan, saat mampu melewati masa melahirkan secara gentle birth. Ah, berasa flash black momentum bahagia yang sampai sekarang masih tersimpan indah dalam memori ini. Melahirkan bayi mungil berjenis kelamin laki-laki yang mukanya plek dengan ayahnya. Proses melahirkan gentle birth saya tulis dengan judul melahirkan tanpa didampingi suami dan menjadi pejuang ASI.

Memantau step by step perkembangan anak adalah suatu anugerah yang patut disyukuri. Berawal dari rasa syukur, membuat diri ini terus menikmati menjadi peran sebagai ibu. Bayi laki-laki itu bernama Giandra Pambudi Prastowo yang mempunyai arti "anak yang  pandai dan beretika atau berbudi dalam menjaga kehormatan". Amiin. Nama ini bagian dari doa dan harapan kami tentunya. 

Sejauh ini, saya merekam perjalanan mengasuh anak untuk pertama kalinya sering saya menuliskannya di feed Instagram. Karena belum punya buku khusus dan agak repot jika harus mengeluarkan waktu untuk menuliskan jurnal anak secara intens dalam buku. Semoga bisa mewakili apa yang saya rasakan dan bisa menjadi panduan untuk anak kedua nanti. 


Bonding ke Anak 

Hal yang tak kalah penting dan yang utama adalah menerapkan bonding ke anak. Bahkan sangat dianjurkan untuk menerapkan parenting sejak janin berada dalam kandungan. Mengajak ngobrol, bercerita, mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an (bagi muslim), mengajak bernyanyi, mendongeng, dan lain-lain. Bonding ini sebagai bekal anak supaya dia terarah dan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Memiliki etika yang baik, cerdas, dan tentunya semua orangtua ingin anaknya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Benar kan ?

Memberikan pedoman ke anak dalam bertingkah laku agar diterima dengan baik sesuai situasi dan kondisi dilingkungan adalah tanggung jawab orangtua. Agar seorang anak menginternalisasi peraturan yang diterapkan oleh orangtua, harus ada ikatan yang dimiliki yang membuat mereka mau melakukan dengan penuh kesadaran untuk bertanggung jawab. Ikatan itulah yang dinamakan bonding.  Sedangkan  kelekatan (attachment) merupakan sebuah hubungan yang terjadi antara anak terhadap orang tua. Hubungan antara orang tua dan anak diciptakan melalui pola pengasuhan yang membangun ikatan antara satu dengan lainnya. 

Menjadi orangtua itu tak mudah, siap atau tidak siap ketika kita diberikan amanah ya kita harus belajar menjadi ibu baik untuk anak-anak kita. Masa depan mereka ada di tangan kita sebagai seorang ibu. Sering saya membaca quote atau motivasi dari para pakar, peran ibu tak dapat digantikan oleh siapapun, termasuk nanny. Baik ibu pekerja dan tidak, porsi anak mendapatkan kasih sayang itu sama. 

Menjadi ibu ternyata super komplit ya hal yang harus dipelajari. Dekapan, pelukan, kasih sayang merupakan hak anak yang harus dipenuhi. Sebagai bentuk pengayom anak agar ada rasa aman yang dimiliki. Usia 0-24 bulan anak masih bergantung sama ibu. Proses menyusui ini salah satu penerapan bonding ke anak sehingga terciptalah attachment. Anak punya hak mendapatkan ASI dari ibu selama dua tahun sudah tertera dalam kitab Al-Qur'an sebagai berikut :

Alhamdulillah, moment menyapih nak giandra sudah terlewati. Lulus ASI eksklusif sampai dua tahun. Bonding yang ditanamkan dari seorang ibu ke anak tentu bernilai ibadah. Memberikan pelukan, kasih sayang dan sebagainya akan menguatkan ikatan batin antara ibu dan anak. Selain itu, bonding sejak dini membuat anak lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan,lebih berani dan lebih mandiri.  

Ada pengalaman yang insha Allah sampai detik ini saya simpan. Dan bisa dijadikan self reminder sebagai orangtua. Dari awal andra lahir sampai usia 10 bulan kami LDM sama ayah andra. Saat pindah Kediri, selama seminggu anak nggak mau lepas dari saya. Hati ini ingin menangis, sampai kapan semua begini. Sama ayahnya sendiri nak andra tidak mau digendong. 

Setelah melewati rentang waktu selama seminggu, nak andra baru mau digendong ayahnya. Sempat saya keteteran dalam hal menyelesaikan pekerjaan rumah. Alhamdulillah, sekarang kebalikan. Nak giandra lengket sama ayahnya. Tentu sebagai ayah ada usaha untuk mendekati anak, memandikan, menyuapi, bermaian bareng, memberikan pelukan saat nangis itu adalah hal yang membuat anak merasa aman berada didekatnya. 

Spesial Time 

Menjadi ibu rumah tangga yang keseharian berjibaku dengan pekerjaan rumah plus momong, adalah pekerjaan yang mulia. Walau tidak memakai seragam, pekerjaan seorang ibu kalau diuangkan tak sanggup untuk dibayar secara keseluruhan. Apalagi jika anak masih bayik dan tinggal sendiri sama suami, seorang ibu harus mampu  mengatur waktu dengan baik. 

Lain hal, sebagai suami yang dari pagi sampai sore kerja di kantor pun harus meluangkan waktu untuk anak dan istri. Sebagai bentuk menguatkan bonding dalam keluarga, yaitu dengan spesial time. Muncul pertanyaan, pentingkah spesial time ? SANGAT PENTING. Pola asuh ke anak tidak bisa hanya dilakukan oleh seorang ibu saja, tapi juga harus diimbangi dengan memberikan kasih sayang dari seorang ayah juga. 

Kenapa harus spesial time?

Moment yang tepat untuk menyatukan seluruh anggota yaitu dengan spesial time. Meluangkan waktu bersama untuk menjalin kedekatan antara ayah, anak dan ibu melalui bermain. Atau berkunjung ke suatu tempat yang sekaligus membelajarkan anak arti dari permainan tersebut. Remember, membersamai anak diusia emas merupakan salah satu pendukung otak anak berkembang dengan baik. Dari hal kecil yang memorable bisa membuat anak merekam dan menjadi ingatan yang membekas. 

Anak akan merasa dicintai, merasa aman dengan kedekatan yang orangtua bangun. Tanpa adanya distraksi tentunya. Full spesial time bersama keluarga. Pernah kah mendapati suatu kondisi, anak saya full dirumah dengan saya sebagai ibunya. Tapi kenapa dia selalu meminta untuk main bareng ?. Hal ini merupakan salah satu kode, full seharian tapi disambi ini itu bahkan pegang HP saat mendampingi anak bermain. Sama saja anak merasa kurang dicintai. Selama kebutuhannya belum terpenuhi dia akan selalu meminta.

Contoh lain, anak tidak mau main sama ayahnya. Karena ayah kurang pendekatan sama anak. Wajar, jika anak menolak main sama ayah. Hal ini kode, bahwa tangki cinta dari ayah ke anak belum terisi full. Jika kita sama-sama memahami peran sebagai ayah dan ibu dengan penuh kesadaran, insha Allah attachment yang kita bentuk akan dilakukan anak dengan penuh tanggung jawab. 

Bukankah anak adalah tamu yang kita undang atas ijin Allah ? Tamu berarti bukan milik kita sebagai orangtua, sebab itu kita harus menjaga, melayani tamu dengan baik. Anak adalah titipan, begitulah pesan Bu Okina seorang psikolog lulusan UGM yang saya kutip dari Instagram beliau. Begitu menohok memang, namun ketika kita mensyukuri keadaan dan memahami kata tersebut pasti benar adanya. Sebagai orangtua harus memberikan tangki cinta ke anak sepenuh hati.

Artikel ini sekaligus pengingat diri saya sebagai seorang ibu yang fulltime membersamai anak dirumah. Masih ada distraksi yang kadang membuat saya harus melakukan itu. Insha Allah,  berusaha meluangkan waktu untuk anak mendampinginya bermain full. Dengan cara sederhana, namun berkesan buat anak.

Nyuci aquarium ikan di hari Minggu


Ananda giandra termasuk anak yang lengket dengan ayahnya, kadang pas ayah capek dan tidak mau diganggu nak andra selalu caper ke ayah untuk ditemani bermain. Bahkan saya temanipun dia nangis dan menolak. Sekaligus menjadi kode bagi saya, bahwa anak punya rasa sensitif. Yang sering disambi walau seharian bersama saya. 

Semoga akhir tahun ini menjadi refleksi bagi saya sebagai ibu untuk terus bernanah dan di tahun 2021 harus lebih baik dari tahun sebelumny. Bonding di usia balita sangat efektif untuk membantu perkembangan otak anak, 90% otak berkembang sebelum usia 5 tahun . Dan ini noted banget buat saya pribadi.










Referensi

https://id.theasianparent.com/bonding-time







Windi Astuti
Fulltime mom yang suka menulis

Related Posts

Posting Komentar