Ganti Judul dan ALt sendiri

Pak Eko Seorang ASN Beruntung

ASN beruntung

Pandangan matanya tertuju ke saya. Seakan ada yang ingin disampaikan. Tiap kali berpapasan, kesan pandangan matanya tertuju ke saya. Seakan ada yang ingin disampaikan. Tiap kali berpapasan, kesan yang sama ditampilkan.

Duh, benar.

Saat motor saya parkir di depannya, saya menyapa dengan gelagat sok akrab. 

"Halo, Pak Eko". " Kabar baik kan?"

Saya rasa, inilah waktu ngobrol santai yang tepat dengan beliau.

Yap, saya melegakan waktu untuk bercengkrama pagi itu bersama beliau. Seorang ASN yang sudah banyak makan garam itu bernama Pak Eko.

Rumahku Kecamatan Gampengrejo Pak Eko, ASN yang Baik Jati

"Hlo mbak, kok cepet nganter anaknya ke sekolah"

"Iya pak, hla wong dekat sini saja kok

 Tiara Sani".

"Oalah". " Disitu ada adik tingkat saya, Bu Tata"

 "Sampeyan Iki rumahe mana to mbak"?

"Saya Gampengrejo, tepatnya di Sambirejo, Pak"


Obrolan semakin panjang. Hampir 30 menit kami berdiri di area parkir. Beliau menceritakan kisah pilunya saat masih muda.

Bukan lulusan sarjana, bukan pula anak orang kaya. Jadi ASN ini saya beruntung mbak. Jaman Pak SBY, modal nekad daftar, Alhamdulillah diterima. Sayapun semakin antusias mendengarkan ceritanya. 

Sebelum Jadi ASN, Tetap Ramah dan Baik

Awal saya disini tahun 2001 mbak. Bayaran yang saya pegang hanya Rp 50.000, dalam sebulan pada jaman itu. Masa training selama tiga bulan, setelahnya gaji naik menjadi seratus ribu dan naik lagi secara bertahap.

Jaman itu, tugas saya membersihkan kamar mandi siswa dan ruangan lain. Sampai gaji terakhir yang saya terima sebesar Rp 400.000. Selama sepuluh tahun saya sukuan (status honorer, maksudnya) mbak.

Ijazah saja ikut program paket. Merasa bersyukur pokoknya, jaman Pak SBY ada lowongan daftar PNS hla kok keterima. Bermula dari situ keuangan keluarga semakin membaik mbak. Padahal dulu, kami sempat hampir runtuh dalam membina rumah tangga. Hanya perkara ekonomi. Betapa susahnya mencari pekerjaan saat itu. Berkat kesabaran dan ketelatenan, saya beruntung diangkat sekolah ini meski hanya bersih-bersih.

Saat itu ada tujuh orang yang diangkat bersamaan dengan saya. Termasuk Pak Soleh yang jadi satpam sekolah ini. 

Kalau melihat dari kacamata sekarang sih kami merasa enak secara sekilas. Tapi, jika menilik masa puluhan tahun lalu, menangis menjadi hal biasa yang saya alami. 

Banyak  yang mengira, saya jadi PNS ini dengan cara menyogok. Nauzubillah, itu tidak kami lakukan. Hla wong buat makan sehari-hari saja kami harus bergelut dengan keringat kok.

Hikmah Apa Yang Bisa Dipetik dari Cerita Diatas ?

Nyatanya, orang yang kita kenal dalam satu tempat kerja bisa jadi kamu butuh ngobrol cukup intens terkait keseharian. Ngobrol santai saja, supaya mereka tahu siapa dirimu, begitu sebaliknya. 

Terkadang kita hanya menerka-nerka siapa sih orang itu. Kok, sombong banget. Kok, cuek banget.Biar tidak dijustifikasi semacam kalimat-kalimat itu, belajarlah dari keadaan. Berkomunikasilah dengan baik, layaknya teman dekat yang sudah lama kenal dengan tetap menyaring informasi penting yang tak selalu untuk kamu sebarluaskan ke mereka, terlebih masalah pribadi yang bersifat privasi.

Apapun dirimu, jadilah yang terbaik. 

Related Posts

2 komentar

  1. Seringkali orang yang sudah sering kita temui, sebenarnya belum kita kenali dengan baik, ya, Kak. Harus lebih peka terhadap rekan-rekan kerja, nih.

    BalasHapus
  2. Betul sih kak, kebanyakan dari kita lebih cepat untuk menjudgment daripada mencoba berkomunikasi. Huhu

    BalasHapus

Posting Komentar