Ganti Judul dan ALt sendiri

Soal Literasi Adalah Tanggungjawab Bersama

Siapa yang bilang minat baca masyarakat Indonesia rendah ? Sini ngaca dulu 😆

Apa Benar Tingkat Pemahaman Membaca Masyarakat Indonesia Terbilang Rendah ?

Berdasar data yang pernah saya baca, skor rata-rata kegiatan membaca masyarakat Indonesia tergolong naik. Bahkan berada di level sedang. Kalau diprosentase ada 55,74 persen (2020). 

Beda lagi dengan aktivitas pemahaman pembaca dalam membaca suatu teks, kalau ini jelas. Masih relatif rendah. Sebab, kemampuan membaca yang dimiliki masyarakat sekarang tidak sepadan dengan gaya berpendapatnya atas buku atau informasi yang dibaca. Mereka lebih memilih diam daripada beropini mengemukakan gagasan serta berpatokan pada bahan informasi yang dibaca. Dong ya ? 😆

Kenyataan Sebuah Gerakan Literasi Pada Umumnya

Kerab saya bersinggungan dengan siswa di sekolah. Saat ditanya apa alasannya, bagaimana pendapatmu? mereka bingung untuk menjawab. Secara teori, bisa dikatakan mereka sebenarnya mampu memahami akan suatu informasi. Tapi, soal mengemukakan pendapat, nyali mereka masih ciut. Terlebih siswa yang lulus hasil generasi pandemi. 

Karakter mereka nampak terlihat sekali bahwa rasa percaya diri mereka untuk mau tampil sangatlah kurang. Bukan hanya dari kacamata saya saja yang bilang, beberapa teman sesama guru menyatakan hal yang sama.

Meskipun pemerintah dari periode sampai ke periode berikutnya mencanangkan gerakan literasi di sekolah, nyatanya semua itu akan berhasil tergantung dari satuan pendidikan yang menjalankan. Kenapa? balik lagi pada profil guru dalam mengemas budaya literasi ini agar mengena dan berpengaruh pada karakter siswa. 

Budaya Literasi adalah Tanggungjawab Bersama

budaya literasi

Jangan menyudutkan pada satu pihak saja, sebab kontribusi keluarga dalam membumikan literasi juga harus ikut andil mengupayakan yang terbaik guna menstimulasi putra-putri mereka saat di rumah. 

Coba deh, tengok kanan kirimu! Pemandangan yang seperti apa yang kerab kamu dapati saat anak muda tidak sedang belajar ? Main game, tiktokan, WhatsApp-an ? Itu juga bagian dari membaca keleus, hanya saja mereka terhanyut dalam hiburan semata. Kurang bisa memposisikan bahwa apa yang ada di hadapannya sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai peluang emas untuk memahami informasi secara detail. Paham isinya, ya mampu berpendapat atas apa yang dibaca. 

Pengguna medsos

Bahwa soal literasi ini tanggungjawab bersama. Membumikan kebiasaan memahami bacaan, dimana, didalamnya terdapat aktivitas membaca. Tak heran, jika para pegiat literasi sekarang semakin melek. Seakan berlomba-lomba untuk mengajak masyarakat mencintai buku tanpa dipaksa. 

Yap, membaca nyaring menjadi aktivitas rutin yang mana sekarang sudah mulai dilirik para orangtua millenial. Bahwa kesadaran mereka semakin tumbuh.

Sisi positif ini harus terus digaungkan, bahkan di share ke media sosial agar lebih banyak lagi orang tua yang tahu dan peduli. Dua tahun ini, saya ikut menyoroti salah satu komunitas literasi yang dengan konsistennya mengadakan challenge membaca nyaring bersama @readaloudyuk. 

Aktivitas membaca nyaring tak hanya sekedar mengajak anak membaca namun, didalamnya ada aktivitas menstimulasi anak berargumen, menganalisa, mencermati serta memupuk kosakata anak agar semakin kaya.

Melihat perkembangan yang semakin bagus, orangtua juga harus paham bahwa semakin anak dewasa, bahan bacaan anak juga harus di sesuaikan umur. Tak membatasi mereka untuk terus mengakses bacaan yang sifatnya membangun. Penguatan di rumah ya penguatan juga diluar rumah (sekolah dan masyarakat)

Sisi lain, ketersediaan buku bacaan haruslah memadai. Bukan lagi buku jadul yang memenuhi isi rak buku. Please, semoga pemerintah juga peka akan hal ini. Perpustakaan daerah, bisa jadi lahan apik untuk menampung serta memfasilitasi masyarakatnya berbondong-bondong, ayo membaca. 

Lainnya melakukan apa ? jangan hanya jadi penghobi yang gemar baca. Ubah statusmu menjadi penulis. Jangan biarkan, pembaca dan penulis tak seimbang. Nyatanya, pembaca lebih dominan ketimbang lahirnya penulis peradaban. Secara tidak langsung, jika kamu terjun ke dunia penulis, kamulah yang akan mengisi mas depan Indonesia dengan beragam karyamu yang membawa harum nama meski telah tiada. 

budaya literasi

Yuk, bersama-sama membangun pemahaman literasi dengan membaca betul agar mampu berargumen dengan bijak. Budayakan gemar mencintai buku sejak dini. 






Referensi Pendukung

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/02/04/kegemaran-membaca-penduduk-indonesia-masuk-kategori-sedang

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/02/18/jumlah-pengguna-media-sosial-di-dunia-capai-42-miliar

https://dataindonesia.id/digital/detail/pengguna-media-sosial-di-indonesia-capai-191-juta-pada-2022

Related Posts

3 komentar

  1. literasi menjadi tanggung jawab bersama ya mba. setidaknya menumbuhkan minat baca dari rumah terlebih dahulu

    BalasHapus
  2. Semua yang dipaparkan kak Windi tidak ada yang meleset. Saya yang membacanya pun angguk-angguk kepala. Harusnya gerakan literasi ini hadir dimulai dari rumah, dari keluarga

    BalasHapus
  3. Benar juga, Kak. Bahwa membaca punya andil besar dalam membisakan seseoramg untuk mengemukakan pendapat, beragumentasi dengan percaya diri karena dengan membaca lalu memahami artinya kita sudah punya pegangann.

    BalasHapus

Posting Komentar