Apakah Pasien Bipolar Bergantung pada Obat ?Temukan Jawabannya Disini

Apakah Pasien Bipolar Bergantung pada Obat ?Temukan Jawabannya Disini

Daftar Isi
Saat buah hati didiagnosa bipolar, hati rasanya remuk. Nampak dari raut wajah sang ibu yang mencoba tetap tegar dengan kondisi putrinya. "Saya sakit apa to ma? kok disuruh minum obat terus?". Pertanyaan yang terlontar dari gadis remajanya. Membuat sang ibu mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut.

Tidak pernah terduga sebelumnya, indikasi di awal membuat sang mama mengambil keputusan segera karena emosional putri cantiknya cenderung ekstrim. Saat masih duduk di kelas tujuh, memang ada permsalahan pertemanan. berlanjut hingga ke kelas delapan, sang ibu sepakat kalau masalah pertemanannya tidak perlu dibawa ke sekolah. Mengenal pacaran, membuat sang putri cantik merasa menjadi gadis remaja yang kekinian. Atas dasar persetujuan dan orang tuanya juga mengetahui, pacaran terus berlanjut. 

Tidak di sangka, dalam perjalanan menuju ke kelas sembilan, si putri cantik terombang-ambing dengan status pacarannya dengan sang kekasih. Berujung panjang, hingga mamanya ikut campur tangan di dalamnya.

Huft, bak sinetron di layar televisi. Si putri cantik akhirnya menarik diri dan mogok sekolah. Sering marah, tidak mau makan, mengurung diri di kamar. Hingga dalam batas waktu yang cukup panjang. Apakah benar, si putri cantik memiliki kepribadian ganda atau yang sering disebut sebagai bipolar ?

bipolar

Gangguan Bipolar Pada Remaja

Menurut penjelasan dr. Aimee Nugroho seorang psikiater, dalam menangani pasien bipolar harus bekerja sama dengan beberapa pihak. Dengan psikolog klinis, orang tua, psikolog dan lainnya. Tergantung kondisi pasien bipolar.

Mengingat bipolar adalah gangguan kesehatan mental, perlu penanganan yang intensif dan tidak sembarang diagnosa karena memang harus ditangani oleh ahlinya.

Teman windi pasti juga sudah tahu kan, Marshanda si artis merupakan penderita bipolar yang sejak remaja sudah didiagnosa. Pada saat ia masih remaja, ia tumbuh menjadi pribadi yang semangat, ceria dan energik.

Sama halnya dengan yang dipaparkan oleh dr Aimee Nugroho, pasien bipolar bisa menjadi pribadi yang selalu happy, bisa juga akan merasa sedih tergantung kondisi emosionalnya. Yang jelas, pasien bipolar pernah mengalami depresi yang masalah sebelumnya tidak terselesaikan. 

Kembali pada kisah si putri cantik. Di usia sebelumnya, ia adalah putri cantik yang cenderung normal-normal saja. Tidak ada masalah besar. Bahkan orang tuanya tidak pernah mengadukan apa yang dialami putri cantik ke pihak sekolah.

Saat menapaki perjalanan dan proses belajar ke kelas semibilan dengan riwayat pernah pacaran, si putri cantik begitu semangatnya menjalani masa remajanya.

Namun, keadaan menjadi terbalik, ketika si putri cantik mengalami masalah berat. Diputuskan pacar, bentrok dengan teman sekelasnya, dan dianggap tidak diakui oleh teman sekitarnya. Menarik diri, dan sering marah tidak jelas

Penyebab Bipolar

Mendiagnosa bipolar, tidak bisa dilakukan seketika. Perlu rekam medis yang detil dan ditangani oleh ahli. Menurut Halodoc, bipolar memang ada indikasi karena faktor genetik. Lebih dari itu, masa kehamilan yang cenderung tidak mampu mengelola stress bahkan depresi bisa memicu bipolar. Saya jadi teringat, jika si mama memang pernah cerita pada saat mengandung si putri cantik, mama mengalami depresi luar biasa karena cekcok dengan suaminya.

Penyebab lain, pemicu bipolar ini ada rasa trauma atau depresi berat yang dialami, pemakaian obat, dan perubahan siklus tidur. Biasanya, pasien bipolar akan betah jika semalam tidak tidur. Energi mereka juga tetap penuh meskipun waktunya sitirahat, ia tidak terlelap.

Bahkan, apa yang pernah dilakukan secara sadar, jika ditanya, dia tidak dapat mengingatnya. Lantaran hal itulah, ketika pada fase mania, menunjukkan gangguan emosional yang cenderung esktrim dan sering terjadi, pasien bipolar akan ngedumel sendiri. Ngomong banyak, bahkan dia tidak merasa kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja. Pada dasarnya, dia tidak bisa mengontrol emosi yang sedang dia alami.

bipolar mania dan hipomania

Cukup dilema, bagi kita, yang berada di sekitar orang pengidap bipolar. Itulah kenyataannya. Lingkungan, turut mempengaruhi. Tidak perlu juga menyalahkan, bagaimanapun, mereka diciptakan sang maha agung tak lain, punya maksud dan tujuan yang mana kita sebagai manusia juga harus memahami kondisi mereka dan ikut membantunya agar dia tetap stabil dan mampu mengelola emosinya dengan baik.

Pasien bipolar, bisa bertindak secara sadar atas apa yang dia lakukan. hanya saja, tidak bisa dipertanggung jawabkan dari apa yang telah dilakukan. Bisa saja, mereka membeli barang mahal di luar kemampuan tanpa memikirkan bagaimana acara membayarnya nanti. Ada juga yang di contohkan dr Aimee Nugroho, ketika melihat orang yang ditemuinya ingin mobil mewah yang dia punya, seketika, mobilnya itu juga diberikan ke orang tersebut. Diluar nurul ya ?

Perbanyak stok sabar pokoknya. Jangan sampai, pasien bipolar melakukan hal ekstrem yang berujung bunuh diri. Ini yang nantinya akan berakibat fatal.

Hal penting yang perlu menjadi catatan, Kuncinya, pasien bipolar harus mau mengikuti pengobatan secara jangka panjang dan tak terputus, karena hidup mereka memang bergantung pada obat. Dukungan penuh keluarga, juga ikut membantu kesuksesan pengobatan.

Pasien Bipolar, Apakah Harus Minum Obat Terus ?

Menelusur beberapa referensi terkait bipolar, pasien bipolar memang harus minum obat terus. Jika mau berhenti, wajib konsultasi ke dokter. Karena obat yang diberikan ada dosisnya dan diperuntukkan agar mood pasien terjaga. lebih dari itu, obat untuk pasien bipolar sebagai penenang karena ada yang menderita bipolar, tidurnya tidak teratur.

Bukan hanya ppasien bipolar saja yang membutuhkan penanganan. Keluargnya, juga butuh konseling ke ppsikolog dan psikiater untuk mengetahui bagaimana merespon kondisi yang tidak terpediksi terhadap pasien bipolar.

Begitulah kenyatannya. Hal begini, saya rasa, dapat dibentuk dan dilakukan sosialisasi massiv yang dilakukan oleh komunitas maupun organisasi yang terjun dalam dunia kesehatan.

Meskipun penderita bipolar tergolong rendah, sekitar 2,4% saja, peran penting terkait edukasi ke masyarakat juga dibutuhkan. Seperti kasusnya Marshanda yang memang sampai detik ini dia sering menarik perhatian netijen, jika tidak memahami kondisi bipolar ya bisa jadi dianggap orang gila. Tidak sedikit di media sosial juga membahas terkait hal itu.

PAFI (persatuan ahli farmasi Indonesia) bisa melakukan kegiatan kemanusian memberikan pelatihan gratis atau seminar pendukung untuk membekali para keluarga pasien bipolar punya cara bijak menghadapi kondisi ketika pasien bipolar berada di status mania maupun hipomania.

Meskipun PAFI ini merupakan komunitas yang di dalamnya adalah orang-orang farmasi, tidak ada salahnya mengadakan kegiatan kemanusiaan tersebut. Berkaitan dengan obat-obatan, bagaimana menggunakan obat dengan bijak bisa turut diterapkan.

Penutup

pafi kabupaten kapuas

Semoga, kehadiran  pafi(dot)or(dot)id  menjadi penyambung secuil problematika penangan kasus bipolar. Yuk, menjadi bagian pendukung dari pafi(dot)or(dot)id.

Sebagai ibu sekaligus pendidik, saya turut prihatian atas apa yang dialami murid saya. Menjadi pelajaran berharga. 

Bersikap empathy sebagaimana mestinya, Bipolar bisa dikendalikan dengan obat-obatan sesuai dengan petunjuk psikiater. Saling mengingatka, untuk tetap bijak menghadai pasien bipolar.



2 komentar

Comment Author Avatar
11/7/24 12:39 Hapus
Selain keluarga pasien yang perlu diberi sosialisasi cara-cara menghadapi pasien bipolar, kayaknya masyarakat juga perlu mbak. Masyarakat umumnya masih belum paham apa arti dari penyakit mental. Mereka umumnya menganggap bahwa orang yang punya penyakit mental itu ya gila. Padahal enggak. Semoga instansi terkait bisa perlahan memberikan edukasi untuk masyarakat juga keluarga pasien.
Comment Author Avatar
11/7/24 19:24 Hapus
benar banget, setelah cari referensi terkait, banyak peer menghadapi pasien bipolar