Berada di tahap muak dengan semua yang terjadi. Pemberitaan yang kian memojokkan pemerintah. Mulai dari huru-hara program MBG, kasus korupsi, kinerja POLRI, lapangan pekerjaan yang semakin sulit didapatkan dan pemain ekonom yang mulai beraksi karena takut kebongkar tingkahnya akibat gebrakan presiden sekarang. Dan lainnya.
![]() |
| Source : pinterest |
Sepadan dengan apa yang kurasakan. Mulai (sedikit) paham, sebegininya birokrasi, sistem yang dimainkan sejak masuk di sekolah negeri.
Tak gentar, aku terus mengedukasi diriku sendiri. Bahwa seorang ibu, istri, guru atau profesi apapun tetap harus tahu (sedikit) tentang politik.
Bukan untuk proses maju ke pemilihan. Lebih ke bagaimana mengambil tindakan di lingkungan kecil, pengasuhan, membentuk pola pikir dan sebagai bekal di proses pemilihan berikutnya (pilihan yang terakhir) . Sebab, pilihan kita siapa akan dimintai pertanggung jawaban kelak, kan?
Aku mau berbicara sedikit, tentang pendidikan era masa kini.
Pendidikan vs Politik
Aku baru tahu, apapun ada unsur politiknya. Ya, semenjak mengajar disini. Dulunya, waktu di Jawa Tengah. Aku tidak pernah tahu bahkan tak berpikiran kalau dalam pengambilan keputusan mempertimbangkan sisi politik.
Sebagai salah satu contoh mengenai aturan membawa HP di sekolah.
Dalam aturan, boleh memang bawa HP. Karena sudah eranya. Pembelajaran melibatkan teknologi. Atas nama kebaikan dan pasca corona (kala itu). Penggunaan semakin tidak bijak. Waktunya dimasukkan, HP tidak disimpan di loker. Konten yang dikonsumsi makin liar.
Pada saat ada himbauan muid tak lagi boleh bawa HP mengingat banyak mudharatnya. Ternyata, ada segelintir wali murid yang mengadu ke dewan, "tak boleh melarang murid bawa HP. Dengan alasan sulit berkomunikasi dengan orang tua untuk penjemputan serta alasan lainny"
Guru dan kebijakan sekolah akhirnya kalah. Aturan balik lagi, murid boleh bawa HP dengan mengikuti aturan sekolah atas dasar instruksi atasan
Nyata..... Ya begitulah adanya.
Sekolah berusaha mewujudkan dan membentuk karakter baik anak dalam hal kepatuhan. Dengan mudahnya dipatahkan oleh penguasa yang seharusnya babat alas dulu sebelum menelan mentah (atas dasar dekat, kenal).
Guru berupaya kuat menjaga marwahnya, namun kenyataan tak selalu berpihak baik. Geram dong. Namun, beginilah adanya. Yang katanya ada hak mendapatkan jaminan hukum, masih saja ada pemberitaan guru dipolisikan karena kasus (tahu kan yang ku maksud siapa?)
Tentang satu aturan ini, andai semua murid mau degan sadar diri dan tanggung jawab menjalankan aturan yang disepakati bersama di sekolah. Semua akan indah pada waktunya.
Karakter baik itu akan muncul secara utuh. Berkat kolaborasi aktif orang tua, masyarakat, guru dan semua stackholder. Bukan mengatasnamakan kepentingan masyarakat, tapi bisa saja lupa sewaktu-waktu karena aduan orang terdekat (berpengaruh) yang justru membuat luka pada sosok yang disebut teladan.
Cukup ini saja yang ku tulis. Sebenarnya, ada banyak sekali bukti nyata yang aku simpan dalam memory otakku yang secara tidak langsung ini tahun ke-enam mengajar. . Aku menyebutnya, jurnal mengajarku dari tahun 2021-sekarang.
Sangat berbeda kesan dan pengalaman ketika jadi guru sejak 2016-2019 do Jawa Tengah. Kalau aku menuliskan ceritanya disini, na ti jadinya membandingkan.
Tentang kesejahteraan
Aku pernah membuat status di instastory, untuk saat ini aku tidak merekomendasikan profesi guru ke anak. Bukan hanya itu, akupun telah mengajak muridku menganalisa berapa gaji pedagang cireng, guru TK, guru SD, ASN, buruh dan pebisnis. Secara matematika, mereka kuajak berhitung berapa gaji sebulan dengan pemasukan yang harus dimiliki. Bekal untuk berkeluarga dan semata-mata agar murid punya persiapan jangka panjang.
Teringat sosok pendakwah "hawariyuun" Yang sejak remaja sudah diarahkan oleh orang tuanya membaca buku parenting, belajar penhasuhan sebagai bekal dalam membangun rumah tangganya. Tidak ada yang salah kan, dengan cara berpikir ku? Sebab, aku merasa bekal menuju rumah tangga itu sudah seharusnya dipersiapkan sejak dini. Agar punya bekal cukup untuk mengarungi perahu bersama nahkodanya.
Jika jadi guru honorer itu kurang sejahtera. Wajar kan, jika mencari tambahan diluar? Demi keluarganya. Polemik honorer yang tidak tuntas-tuntas, dengan kebutuhan guru di sekolahku yang belum juga terpenuhi. Kebayang tidak, beban mengajar guru itu berapa jam?
Tidak pandang honorer maupun ASN. Pokok, pekerjaan dibagi ke semuanya sesuai tupoksi. Soal gaji gak setara, biar waktu yang menjawab.
Mungkin karena disekolah tempatku mengajar kekurangan guru di beberapa mapel. Jadi, double/triple job sudah jadi hal biasa. Sedangkan tantangan yang dihadapi semakin kompleks.
Jika aku boleh berkata, lebih cenderung aman mengajar di sekolah islam yang serumput dan benefit. Ketimbang di sekolah favorit negeri.
Aku bukan membuka aib, ini fakta. Pendidikan di Indonesia itu masih ruwet. Kesejahteraan guru tidak menjadi jaminan satu-satunya bahwa pendidikan akan maju. Sistem dan integritas pemangku jabatan disemua lini lebih berpengaruh terhadap kebijakan yang adil dan merata.
Jika tanah pendidikan saja dikawinkan dengan politik, mau dibawa kemana pendidikan bangsa ini?
Ikut Ambil Peran
Pikirku, meski ambil peran dilingkup terkecil, aku yakin apa yang aku lakukan akan berdampak secara tidak langsung. Pengetahuan yang selalu ku upgrade sekaligus skill. Akan berpengaruh pada bagaimana caraku menyampaikan ke murid. Bukan meracuni, lebih ke mengkritisi bagaimana kita menyiapkan diri sejak dini untuk berperang melawan hal-hal yang tidak pantas ada dalam dunia pendidikan.
Yang aku upayakan terus untuk menjadi pribadi bertumbuh, sehingga bisa ambil peran terkecil merespon kondisi yang tidak menentu :
- Rutin mendengarkan podcast minimal seminggu sekali
- Menulis
- Menyeimbangkan peran sebagai workingmom
- Upgrade skill tiap tahun
- Belajar hal baru
- Memperbaiki ibadah
- dan lainnya
Dari sekian ini bakal berdampak pada mindset dan langkah kecil bagaimana diri dan keluarga teredukasi dengan porsi terbaiknya
Akan terus mengabdi dan belajar menerima dengan sepenuh hati walau kadang kebijakan membuat letih. Masyarakat sipil tidak ada power untuk memperjuangkan apa yang seharusnya.
Jika dikupas satu-persatu, tidak bagus juga untuk dikonsumsi masyarakat umum. Besar harapan, orang tua, perempuan, remaja dan siapapun tetap bersuara, ambil peran dengan versi terbaiknya untuk tetap mempersiapkan estafet berikutnya yang mengemban perjuangan ini demi diri, masa depan dan tanah air.








Posting Komentar
Posting Komentar