√Ketika Politik Mengajarkan Cara Mengasuh Anak

Ketika Politik Mengajarkan Cara Mengasuh Anak


Mengikuti perkembangan masa pemerintahan presiden periode 2025–2029 rasanya perlu dilakukan. Bukan untuk menertawakan kubu siapa pun. Justru dari situ aku jadi tahu, di sekelilingku dulu memilih nomor berapa saat pemilu. Hehehe.

Lebih dari sekadar itu, pemerintahan yang sekarang terasa agak aneh bagiku. Demokrasi seolah makin rusak. Banyak yang bersuara, tapi justru dibungkam.

Namun, bukan itu yang ingin aku bahas panjang lebar.

Dari sisi parenting, dengan kondisi negara yang internalnya masih morat-marit, ada banyak hal yang perlu dibenahi. Inilah beberapa insight yang aku dapatkan setelah mendengarkan podcast @forumkeadilanTV dengan topik hangat: “MBG Program Bancaan, dari Polisi sampai Politisi.”

Alasanku Sering Menonton Podcast Politik

Bukan tanpa alasan. Mendengarkan podcast di kanal yang dirintis para tokoh berpengaruh kini menjadi rutinitasku. Aku memaknainya sebagai wujud empati pada negara. Caraku menambah wawasan kebangsaan, sekaligus bekal pengasuhan sebagai orang tua.

Aku sadar, meski banyak ibu tidak terlalu suka politik, justru aku tertarik dengan topik ini. Bukan untuk terjun ke dunia politik—justru sebaliknya, aku enggan.

Sejak memfokuskan diri pada isu-isu ini, setidaknya aku jadi sedikit paham dampaknya. Nyatanya, dunia pendidikan yang tampak sederhana justru terjerat birokrasi yang rumit.

Bagiku, ini menjadi ilmu tambahan agar bisa menjadi ibu yang responsif, adaptif, dan terus update. Aku memilih mengambil sisi hikmahnya: membekali diri sebagai ibu dan pendidik agar lebih bijak dalam mengasuh anak.

Dimulai dari Sini: Indonesia dan Board of Peace (BOP)

Yanuar Rizky menyampaikan kegelisahan yang rasanya juga dirasakan banyak rakyat, termasuk aku. Presiden dinilai terlalu berani mengambil risiko dengan bergabung dalam Board of Peace (BOP). Indonesia ikut aktif dalam program yang digawangi Amerika Serikat, padahal belum tentu menguntungkan bangsa sendiri.

Aksi damai yang dikemas dalam BOP oleh Donald Trump entah mengapa membuat Indonesia seolah menjadi pendukung. Yang tampak ambisius justru Presiden AS bersama sekutunya.

Beberapa tokoh Indonesia seperti Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla juga menilai Indonesia terlalu cepat mengiyakan ajakan tersebut tanpa kajian mendalam. Alasannya: utang Indonesia akan jatuh tempo, sementara kas negara tidak cukup untuk menutupnya.

Seharusnya, dalam membangun negosiasi, presiden perlu kecermatan dan ketelitian. Amerika Serikat sejak dulu dikenal sulit ditebak. Bisa jadi, arah BOP justru menjadi perangkap bagi Indonesia. Apalagi Indonesia adalah negara dengan umat muslim terbanyak di dunia, yang secara tidak langsung dianggap mendukung konflik di Timur Tengah.

Akhir Februari 2025, arah itu semakin terlihat. Sebagai rakyat, tentu kita marah. Rakyat capek-capek memboikot produk asing, tapi pemimpinnya justru membuka peluang produk itu masuk ke tanah air.

Soal Keuangan Negara dan Program MBG

Sebenarnya, internal pemerintahan saat ini memang perlu banyak perbaikan. Apakah karena utang jatuh tempo lalu keikutsertaan Indonesia di BOP dijadikan jaminan agar mendapat kelonggaran? Tidak ada yang bisa memastikan.

Realitanya, kas negara tidak cukup untuk membayar utang. Ada ratusan triliun rupiah. Kalau dipaksakan, bisa saja, tapi risikonya kas negara akan kosong.

Di sisi lain, program MBG disalurkan setiap hari dengan menyedot dana sekitar 1,2 triliun rupiah. Menurutku, inilah salah satu penyebab keuangan negara tidak stabil. Januari 2026 saja, pajak negara sudah defisit dari perkiraan.

Soal MBG, dananya cair tunai setiap hari. Yanuar Rizky menyampaikan, jika Indonesia mau prihatin dan membenahi diri perlahan, menghentikan program MBG saja sudah menghemat banyak anggaran.

Efisiensi yang dilakukan justru menambah beban pemerintah daerah, terutama instansi kecil. Aku pun merasakannya. Tahun 2025, dampak efisiensi membuatku harus bekerja ikhlas sebagai guru honorer.

Rakyat kecil seakan menjadi korban: efisiensi, MBG, dan kebijakan lain yang jika dicermati hanya menguntungkan kelompok tertentu.

Tak heran jika Ketua BEM UGM, Bung Tyo, sampai mengirim surat ke UNICEF agar Presiden tidak sewenang-wenang menggunakan alokasi dana pendidikan 20% APBN untuk MBG.
Keputusan Sepihak dan Demokrasi yang Retak

Keputusan Indonesia bergabung dalam BOP terasa sepihak, seolah tak mendengar jeritan rakyat. Pasca demo besar Agustus 2025, demokrasi terasa makin patah.

Banyak suara disampaikan lewat media sosial, tetapi justru berujung teror. Bahkan ada ultimatum: siapa pun yang menghalangi program MBG dan koperasi merah putih dianggap melanggar HAM.

Padahal, membungkam rakyat yang berpendapat juga melanggar HAM.

Indonesia berada di ambang kegentingan yang semakin kompleks. Masalah internal belum selesai, tetapi perhatian justru tersedot ke urusan luar negeri. Sementara bencana di Aceh belum sepenuhnya pulih.

Lelah, rasanya.

Program MBG Perlu Ditinjau Ulang

Jika suatu hari program MBG dihentikan demi keselamatan bangsa, aku tidak akan mencemooh. Justru aku akan menghargai keputusan itu.

Kalau secara logika, program ini seperti korupsi halus. Makan bergizi yang direncanakan, tapi praktiknya bisa berubah menjadi “maling berkedok gizi”.

Aku juga menerima MBG, jadi tahu kondisi di lapangan. Berita yang beredar seolah dampaknya luar biasa, padahal jika dilihat dari sisi lingkungan, mindset, dan kemanusiaan, masalahnya panjang.

Aku mendukung program pemerintah apa pun selama dijalankan dengan jujur dan transparan. Presiden terpilih berhak membuat program. Tapi jika program menimbulkan kecaman luas, wajar jika publik menuntut evaluasi.

Lalu, sebagai Orang Tua, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Sebagai orang tua, kondisi ini membuatku berpikir: bagaimana mempersiapkan generasi masa depan?

Beberapa hal yang bisa dilatih sejak dini:

1. Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan

Membiasakan anak mandiri sesuai usia:
– Merapikan tempat tidur
– Memakai baju dan sepatu sendiri
– Memberi makan hewan peliharaan
– Mencuci dan menyetrika pakaian sendiri

2. Melatih Pengambilan Keputusan

Contohnya: memilih baju sendiri, menentukan waktu bermain gim dalam seminggu. Anak belajar bertanggung jawab atas pilihannya.

3. Melatih Empati dan Kerja Sama

Ajak anak memasak bersama lalu berbagi ke tetangga. Berbagi hasil panen kebun. Anak belajar peduli dan memahami orang lain.

4. Mengasah Kemampuan Problem Solving

Saat anak kesulitan, jangan langsung membantu. Dampingi agar ia belajar mencari solusi.

5. Membiasakan Komunikasi Efektif

Jadilah pendengar yang baik. Anak akan terbiasa mengutarakan pendapat tanpa takut dihakimi.

6. Menjadi Teladan

Anak adalah peniru ulung. Sikap orang tua akan terekam kuat dalam perilakunya.

7. Menghargai Kegagalan

Kegagalan adalah bagian dari belajar. Apresiasi usaha anak sekecil apa pun.

8. Mendorong Kemandirian


Buat kesepakatan waktu belajar, bermain, dan beribadah. Anak belajar mengenal batasan dan tanggung jawab.
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar