√Di Balik Ketukan Jemari: 4 Hal Ini yang Ingin Kusuarakan (Tentang Kejujuran dan Keadilan)

Di Balik Ketukan Jemari: 4 Hal Ini yang Ingin Kusuarakan (Tentang Kejujuran dan Keadilan)

core message blog windiesatuti.com
sumber gambar : https://www.pexels.com/photo/close-up-shot-of-a-person-writing-on-a-notebook-11505604/

1. Riuh Dunia vs Sunyinya Tulisan

Buka media sosial itu penuh kebisingan. Banyak suara-suara (informasi) yang diposting. Mulai dari curhatan pribadi, update status terkini, hingga menyuarakan ketidakadilan (pemerintahan edisi 2025–sekarang) yang berujung dibungkam.

Coba kita tengok. Media sosial mana yang saat ini 100% dapat dipercaya sebagai patokan kebenaran informasi? Bisa saja para influencer dan beberapa dari mereka yang paham politik berani ambil tindakan untuk menerima segala risiko adalah karena idealismenya dalam bersuara.

Menyaksikan beberapa influencer yang speak up, tapi berujung diteror. Padahal, banyak juga selain mereka yang bersuara lantang di media sosial, tapi tidak diperlakukan sama. Lantas, harus bagaimana lagi cara kita menyuarakan pendapat?

Ketika media tak lagi menampakkan ruhnya, blog pribadi bisa menjadi senjata murni. Berbicara tentang kejujuran, keberanian yang dibalut dengan gaya storytelling, berdasarkan data dan yang jelas, pemilik bisa mengatur dengan baik informasi apa yang hendak diposting.

Saya rasa, blog adalah ruang aman untuk menyuarakan. Dengan gaya bahasa yang sopan, santai, dan tidak langsung menjurus ke orang yang dituju kali ya. Sebab, saya pun tidak berani 100% demikian seperti influencer yang diteror. Karena takut hilang pekerjaan. Hahaha. Maklum, saya bakal di-notice jika berulah dan berisik melalui medsos.

Orientasi saya bukan para pejabat elit. Justru yang saya targetkan adalah teman saya, pengikut, dan orang di sekitar saya. Agar mereka sadar. Memilih pemimpin harus cermat. Bukan karena sogokan atau ikut-ikutan semata. Harus punya big why kenapa memilih nomor 1, 2, atau 3. Sepuluh tahun yang lalu, kita pernah gagal memilih pemimpin. Jangan sampai mengulang hal yang sama. Bahwa sebagai rakyat harus punya kriteria sosok pemimpin yang berkarakter, mementingkan kepentingan rakyat, dan tidak saling berebut kekuasaan.

teacher blogger
sumber gambar : https://www.pexels.com/photo/person-holding-white-chalk-625219/


2. Suara Seorang Pendidik: Melampaui Tulisan di Papan Tulis

Saya seorang guru. Bisa saja meracuni isi otak murid untuk membenci keadilan. Namun, bukan secara terang-terangan mengajak muridku untuk membenci. Justru lebih ke mengkritisi.

Pendidikan adalah ketulusan yang lahir dari teladan yang baik. Jika pemerintahan saja tidak jujur, lantas bagaimana generasinya? Sebagai contoh ya, tentang MBG. Muridku semua juga tahu kok, isi dan rupa MBG yang diberikan pemerintah itu apa dan bagaimana. Tanpa kami meminta mereka speak up, wali murid lebih dulu mencari tahu MBG anaknya. Dari hal ini saja, kita semua bisa belajar mengkritisi.

Tugas guru justru makin berat. Bagaimana mengover kenyataan yang ditampilkan pemerintah agar tidak berdampak pada psikologis murid. Ketakutan kami, tak ingin murid mencontoh hal yang tidak baik sehingga mereka tumbuh menjadi koruptor kelak di masa depan. Ingin kami tidak demikian. Ingin kami, mereka lahir menjadi generasi yang penuh kejujuran dan dapat bersikap bijak di segala tantangan.

Sebab itu, melek politik bagi guru untuk saat ini menjadi sebuah kewajiban untuk dapat mengawal proses tumbuh kembang anak dalam bermedia sosial, menjaga marwah pelajar, dan generasi kebanggaan di masa mendatang. Blog windieastuti.com hadir sebagai inspirasi sekaligus teman agar para orang tua (parents) tidak sendirian dalam menerima ketidakadilan untuk dapat diluapkan dengan cara elegan dan bijak.

mom blogger
sumber gambar : https://www.pexels.com/photo/young-working-mother-cuddling-baby-and-using-laptop-at-home-7282818/

3. Suara Seorang Ibu: Menjadi Manusia yang Utuh

Merasa lelah itu manusiawi. Kewarasan adalah kunci. Sebagai working mom yang punya passion mengajar dan hobi blogging, bukan hal yang mudah untuk mewujudkan ruang aman dengan kapasitas waktu yang seimbang dengan melahirkan tulisan-tulisan di blog pribadi. Butuh effort kuat.

Ada malam-malam untuk begadang. Ada izin yang harus disampaikan ke anak ketika benar-benar butuh waktu untuk menuliskan artikel. Ada diksi yang perlu diracik untuk artikel yang diniatkan sebagai zakat waktu. Ini adalah proses jujur. Tanpa adanya ruang untuk berbagi bagi seorang ibu, bisa saja isi pikiran justru tidak terbendung. Jangan sampai pikiran menyibukkan kita kepada hal-hal yang unfaedah.

Ibu, apa pun kamu, tetaplah butuh ruang dan waktu untuk mengekspresikan diri agar tidak hanya berkutat pada pekerjaan rumah yang tiada habisnya. Tidak heran jika di blog windieastuti.com saya sematkan label parenting. Ini juga menjadi ruangku berbagi, mengungkapkan rasa dengan harapan dapat merangkul sesama ibu untuk saling menguatkan.

4. Suara Spiritual: Menulis adalah Dakwah Bil Qalam

Untuk menyuarakan kebaikan tidak harus menunggu tenar dulu, kan? Siapa pun bisa, kok. Memilih hidup dengan prinsip menjadi manusia yang berdampak. Seperti sosok almarhum Vidi Aldiano, orang pilihan yang menerima sakit menjadi anugerah membuatnya lebih dekat dengan Allah. Dia bukan ulama besar, dia hanya musisi. Namun, kebaikannya meninggalkan jejak kehidupan yang tetap abadi. Kebaikannya tetap dikenang banyak orang.

Sampai tulisan ini diterbitkan, sejak meninggalnya Vidi pada 7 Maret 2026, segala kebaikan yang tidak pernah diceritakannya, dengan sendirinya mengungkap kebaikan Vidi semasa hidupnya. Sedih teramat dalam (bagi saya).

Saya ingin seperti Vidi. Menjadi orang baik yang bisa menyuarakan kebaikan. Menyibukkan diri dengan produktivitas yang membawa keberkahan. Hanya saja caranya yang berbeda. Bismillah, semoga dimudahkan. Semoga tulisan yang ada di blogku ini bukan hanya tumpukan artikel semata, melainkan bisa menjadi tempat pulang ketika hati butuh asupan nutrisi (bacaan). Saya tetap bisa menulis hingga mempostingnya menjadi tulisan yang bermanfaat.

Sisi spiritual ini yang terus saya rawat. Blog ini hadir bukan untuk memperlihatkan kepintaran sang pemilik. Justru blog ini adalah ruang terbuka untuk menampung suara. Ketika teman pembaca bingung harus bagaimana, di sinilah kehangatan ditemukan. Blog ini mewakili suara saya dalam berbagi walau masih terdapat begitu banyak keterbatasan saya menjadi manusia, pendidik, dan menjadi ibu.

Dari keempat poin diatas, nomor keberapakah yang paling mewakili isi pikiran teman-teman ? tentang kegelisahan menjadi pendidik ? atau tentang lelahnya menjadi orang tua ? atau sedang butuh support sistem untuk tetap menikmati hobi yang kamu pilih ? Yuk, sharing di kolom komentar.



#TheCupuersIsBack #RamadanSoulJourney #BloggingAsIbadah


Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar