Saya mengira bakal kuat menuntaskan challenge 30 hari menulis di bulan Ramadan. Namun, saya mundur duluan. Terasa kayak dipaksakan, tapi tetap ingin jalan. Tidak sepadan dengan misi di awal. Begitulah kerandoman #workingmom dengan satu anak ini. Gugur sudah harapan ingin mendapatkan imbalan dari challenge tersebut.
Ada yang pernah di posisi yang sama?
Teringat perjuangan besar Vidi Aldiano yang tetap ingin produktif ketika ia masih hidup dan sakit. Enam tahun menjalani spa day (sebutannya untuk kemoterapi rutin). Diterpa badai yang membuat gemuruh di otak, namun hidup harus tetap jalan. Vidi Aldiano harus melanjutkan karyanya. Begitulah kira-kira perjuangan hidup yang ia sampaikan secara tidak langsung: tetap menghibur, positive vibes di depan banyak orang, dan sosok yang tidak ingin membuat orang di sekitarnya sedih.
Ketika saya sedang bersusah payah menerbitkan satu artikel di blog, capek bercampur dengan momen puasa Ramadan. Dua pilihan yang tidak mudah: tetap konsisten menulis atau konsisten meningkatkan ibadah? Saya mau menjalankan keduanya. Ibadah lancar, menulis juga lancar.
![]() |
| sumber gambar : https://www.pexels.com/photo/woman-working-in-home-office-4240505/ |
Kontradiksi Rasa
Menulis saat puasa Ramadan adalah sebuah kontradiksi rasa. Untuk lapar, sebenarnya masih bisa saya tahan. Hanya saja, Ramadan ini cukup menguras tenaga dan emosi. Ada satu kasus murid yang mana memang butuh penanganan penuh empati. Effort-ku besar, hasilnya tidak sepadan. Cukup mematahkan semangat, namun nasi sudah menjadi bubur. Saya harus merawat kewarasanku dengan tetap bekerja dan beribadah dengan baik, sekaligus tetap menulis apa pun kondisinya.
Namun, ketika otak sedang riuh dengan beragam masalah murid, pergolakan batin terjadi bak peperangan yang sangat hebat. Nyatanya, menulis di kala isi pikiran tidak sedang baik-baik saja rasanya ingin berteriak. Ambil jeda di sudut ruang dan menikmatinya dengan rebahan.
Saya tidak sekuat Vidi Aldiano dalam menggiring pikiran. Ketika hati sedang tidak baik-baik saja, ia tetap bisa memancarkan sinar kebahagiaan di wajah, bahkan dapat menghibur sekian banyak orang. Maunya sih demikian. Tetap bisa memposting tulisan berhikmah di Ramadan, sekaligus menjadi refleksi seberapa jauh konsistensi dan disiplin menulis di tengah lelahnya puasa Ramadan.
Menemukan "Ngabuburit Kreatif" : Strategi Waktu Menjaga Konsistensi NgeBlog
Saya pun menyadari, butuh konsistensi mengatur waktu agar dua hal yang saya inginkan terwujud dengan baik. Bukan karena paksaan. Perlu upaya, menyediakan investasi waktu yang tepat agar tenaga tidak habis duluan. Sehatkan dulu diri, menulis kemudian. Ada waktu di mana menulis di kala pikiran tenang dan segar menjadi alternatif tepat biar working mom juga tidak burnout.
The Golden Hour (Ba’da Sahur): Usai sahur menjadi waktu terbaik yang bisa digunakan untuk menulis. Energi sedang berada di puncak. Bisa digunakan untuk menggali ide, menuliskan outline, atau menulis artikel panjang. Upayakan tidak ada distraksi. Berhenti scrolling HP dan berkomitmen menulis dengan energi penuh. Pilih tempat yang sepi dan tenang untuk mendukung produktivitas.
Micro-Blogging di Sela Lelah: Memanfaatkan waktu kritis (menjelang buka). Bisa dibilang ini energi sedang lelah-lelahnya. Bisa digunakan untuk baca ulang artikel yang ditulis, melengkapi gambar, atau sekadar mengecek tanda baca yang kurang atau diksi yang kurang genap.
Deep Work vs Shallow Work: Dapat membedakan mana yang harus menulis serius atau sebatas cek ulang. Poin pentingnya, teman Windi dapat menggiring kontradiksi rasa pada jalan yang benar tanpa distraksi apa pun dan berkomitmen pada tujuan awal yang ingin dicapai. Pasalnya, beragam strategi tanpa adanya komitmen yang kuat, konsistensi tidak bakal terwujud.
Disiplin sebagai Bentuk "Zakat Waktu"
Jika satu jam tidak mampu menelurkan satu artikel, tidak mengapa. Nyatanya, musisi butuh berhari-hari bahkan waktu yang tak terbatas untuk dapat menulis lirik hingga jadi sebuah lagu untuk diputar. Penulis butuh ruang, jeda, dan satu hal yang pasti: tulisan tetap harus diselesaikan dengan indah.
Seperti tulisan di awal, menulis sebagai ibadah. Menulis butuh disiplin waktu, yang jika diartikan sebagai bentuk "zakat waktu". Konsisten bersedekah dengan ide menarik dari sudut pandang penulis dalam menyajikan artikel. Sedikit tapi tetap istikamah, mungkin ini diksi yang tepat kali ya. Melawan mager dengan niat dan mengingat kembali big why-nya, insyaallah bisa mendapatkan kekuatan penuh untuk menulis lagi.
Menulis Tanpa "Nutrisi": Cara Menjaga Kualitas
Sembari mendengarkan konten-konten yang berisi Vidi Aldiano, saya berusaha kuat untuk menuliskan alur tulisanku ini agar tetap mengalir. Ide-ide yang bermunculan juga terinspirasi dari kebaikannya. Saya rasa, nutrisi ini semacam riset yang butuh dicari oleh penulis agar mendapatkan ide segar, pemikiran baru, dan memberikan sisi keunikan yang dapat berdampak pada pemikiran dewasa pembaca.
Tatkala nutrisi dalam pikiran sudah mencukupi, waktunya eksekusi tulisan. Perlu disadari, tulisan itu tidak butuh sempurna, melainkan butuh keberanian yang jujur. Sebab, setiap orang pasti mempunyai perspektif unik masing-masing. Apa yang teman Windi baca, dengarkan, dan rasakan, itulah yang memberikan sumber energi untuk mengeluarkan isi pikiran menjadi sajian artikel yang akan dinikmati oleh pembaca.
Berbuka dengan Karya
Akan sangat terasa ketika artikel yang ditulis penuh dengan perjuangan, maknanya akan sampai di hati pembaca. Ada rasa kepuasan batin, meskipun di balik layar harus "jumpalitan" meracik tulisan. Konsistensi akan lahir dari rangkuman usaha yang terus diupayakan dengan tulus.
![]() |
| sumber gambar : https://www.pexels.com/photo/photo-of-woman-sitting-on-bed-4112359/ |
Semoga konsistensi menjadi saksi bahwa namamu ingin tetap dikenang lewat blog. Jangan sampai lelah fisikmu mematikan diksi yang layak dibagikan kepada pembaca setiamu. Teruslah menebar karya dengan ide kreatifmu. Hidup tak butuh kesempurnaan, namun proses yang sempurna akan melahirkan karya yang abadi. Menjaga konsistensi menulis sama dengan merawat zakat waktu yang membuahkan diksi panjang bernama tulisan. Happy Blogging!
Saya sedang mengikuti challenge di Blogspedia. Komunitas blogging yang memberikan sumber energi luar biasa untuk tetap bertahan ngeblog. Terimakasih teman-teman dan Blogpedia. Dari chaalenge tersebut, muncullah tulisan ini.
Semoga Bermanfaat !
#TheCupuersIsBack #RamadanSoulJourney #BloggingAsIbadah









Posting Komentar
Posting Komentar