√Bukan Perlombaan : Ini adalah Jurnal Workingmom Mendampingi Anak Cinta Aksara dari Rumah

Bukan Perlombaan : Ini adalah Jurnal Workingmom Mendampingi Anak Cinta Aksara dari Rumah

Cara mendampingi anak belajar membaca di rumah. Mendampingi anak belajar membaca di rumah ternyata menjadi tantangan tersendiri bagiku. Sebagai seorang working mom tanpa bantuan Asisten Rumah Tangga (ART), tulisan ini sengaja saya buat sebagai bentuk #JurnalAnak. Sebuah rekam jejak perjalananku sebagai seorang ibu.

Bukan berarti apa yang saya tuliskan di sini adalah metode yang paling benar. Justru, tulisan ini adalah wujud ajakan bagi para orang tua untuk saling berbagi, menjadi pengingat, dan bertukar ide dalam membersamai anak belajar membaca.

cara mendampingi anak belajar membaca di rumah
sumber gambar : pexel


Awalnya, saya sempat sangat khawatir. Bagaimana jika masuk SD nanti anakku belum bisa membaca? Apalagi kalau sedang membuka media sosial dan melihat anak teman sudah lancar membaca di usia dibawahnya andra. Jujur, rasa overthinking itu langsung menyerang.

Tekanan lingkungan dan keluarga yang sering membuat saya stres sebenarnya berasal dari informasi tak terbendung yang berseliweran di gawai yang saya operasikan. Yang sebenarnya mereka unggah sebagai bentuk rasa syukur, bukan pamer.

Namun, rasa cemas itu pelan-pelan mereda. Guru TK Andra rupanya sudah sangat paham dengan keresahan umum para orang tua yang anaknya akan memasuki usia Sekolah Dasar.

Dari situ saya merenung dan bertanya pada diri sendiri: Apakah bisa membaca itu sebuah perlombaan? Tentu saja bukan. Justru, menumbuhkan rasa cinta pada huruf sejak kecil adalah hal yang tidak boleh terabaikan. Harus ada proses bertahap, tidak bisa ujug-ujug anak dituntut langsung bisa membaca.

Fondasi Sebelum Mengeja: Bermain Sambil Mengenal Aksara

Mengajari anak membaca itu ibarat menyusun kepingan puzzle yang rumit. Agar tidak membuat pusing dan membosankan, kita perlu merangkai aktivitas pra-membaca yang menyenangkan dan terkesan ringan. Modalnya hanya satu, konsisten.

Aktivitas sederhana seperti bernyanyi, bercerita, mengobrol, dan membacakan buku secara nyaring (read aloud) adalah fondasi utamanya. Dari sana, saya mulai menciptakan lingkungan yang suportif. Saya menyediakan aneka buku bergambar, membuat rak buku kecil yang mudah dijangkau anak, hingga menempelkan aneka poster di tembok kamar agar bisa dilihat Andra sewaktu-waktu.

Satu cara unik yang cukup seru adalah menempelkan stiker label nama pada benda-benda di rumah, misalnya meja atau kursi. Ini jadi bahan bermain sekaligus belajar yang asyik.

Seingat saya, cara menerapkan belajar membaca anak dirumah  Andra adalah tipe anak yang butuh tantangan. Kalau hanya disajikan huruf secara monoton, ia akan cepat bosan. Akhirnya saya mencari strategi lain. Saya mengajaknya "menjelajah" mencari huruf yang saya sembunyikan di berbagai sudut rumah. Di lain waktu, saya menyediakan papan huruf warna-warni dan alat pancing mainan; tugas Andra adalah memancing huruf sesuai instruksi yang saya sebutkan. Kami juga sering membentuk huruf dari playdough. Kuncinya, sesuaikan dengan umur dan ketertarikan anak agar ia enjoy menikmati prosesnya.

Namun, dari semua cara menerapkan belajar membaca anak dirumah yang paling mudah dan berdampak bagiku adalah read aloud. Ada interaksi positif yang terjalin, ada obrolan hangat yang memantik anak untuk menjawab rentetan pertanyaan kita. Walau manfaatnya tidak langsung dipanen saat itu juga, yakinlah, buah nyatanya akan terasa nanti. Insyaallah.
Strategi Praktis: Melibatkan Semua Indera

Jujur, untuk bagian ini saya cukup terlambat tahu. Saya baru sadar saat mencermati postingan edukasi dari Bu Galuh (CEO Smartkicik) yang sering membagikan cara seru belajar literasi dan numerasi.

Ternyata, mengenalkan bunyi huruf (fonik) itu jauh lebih penting daripada sekadar nama huruf. Misalnya, huruf "B" tidak dibaca "be", melainkan bunyinya "beh". Pendekatan ini terbukti jauh lebih memudahkan anak saat mulai merangkai suku kata.

Saya juga belajar bahwa mengajari anak membaca tidak melulu mengharuskan anak duduk diam di meja menghadap buku, lalu menirukan ucapan orang dewasa. Dibutuhkan strategi untuk memantik semua inderanya bergerak. Karena Andra sangat kinestetik, saya memintanya melompat saat mengambil huruf, atau balapan lari menyusun kata. Belajar jadi ajang olahraga yang penuh tawa! itulah beberapa hal yang saya lakukan, cara menerapkan belajar membaca anak dirumah

Kendalikan Ekspektasi Ibu

Sebagai ibu beranak satu, terkadang ekspektasiku cukup tinggi. Saya sering lupa pada kodrat bahwa anak adalah kertas putih bersih yang sedang belajar memahami dunia.

Pernah suatu ketika, saya memaksakan kehendak saat Andra sedang lelah dan mengantuk. Ujung-ujungnya? Anak tantrum dan kehilangan fokus. Dari situ saya belajar, durasi belajar 10-15 menit namun berkualitas jauh lebih baik daripada belajar berjam-jam tapi berujung anak menolak dan jenuh.

Jangan sampai ekspektasi tinggi kita justru membuahkan bentakan yang merusak sel otak dan mental anak. Hindari melabeli anak dengan kata "bodoh" atau "lambat", apalagi membandingkannya dengan anak lain. Itu sangat menyakitkan bagi mereka.

Ibu Tak Perlu Malu Meminta Bantuan

Ibu adalah orang yang paling tahu kondisi anaknya. Jika secara emosional ibu sedang tidak siap (atau sebaliknya, anak sedang cranky), please, jangan dipaksakan.

cara mendampingi anak belajar membaca di rumah



Saya ingat betul saat Andra kesulitan membedakan huruf 'b' dan 'd'. Kalau membaca kata sederhana seperti "b u k u" dia bisa, tapi begitu bertemu huruf mati (konsonan/paten) di akhir kata, ya Rabb, susahnya minta ampun. Karena ekspektasi saya yang tinggi kala itu, saya pernah membentak dan memarahinya. Saya merasa sangat bersalah karena meninggalkan jejak rasa tidak nyaman pada diri Andra.

Seiring berjalannya waktu, saya sadar saya salah. Saya menambal "cedera hati" itu dengan memeluknya, meminta maaf, memberikan kehangatan, dan membelikan buku pintar membaca yang sesuai dengan usianya.

Saya juga sangat bersyukur Andra memiliki guru TK yang sabar dan super ramah. Beliau sangat paham mood murid-muridnya. Lucunya, kata gurunya, Andra di sekolah justru sering angkat tangan dan rebutan membaca dengan temannya. Sangat berbanding terbalik dengan di rumah! Hahaha.

Dari sini saya belajar, meminta bantuan ahli atau berdiskusi dengan guru bukanlah momok yang memalukan. Terkadang, kita memang butuh support system agar anak terfasilitasi dengan aman dan nyaman.

Merayakan Setiap Kemajuan Kecil

Kini, di usianya yang menginjak tujuh tahun, Masyaallah, Andra sudah bisa membaca. Kemampuannya jauh lebih baik dari sebelumnya. Kebiasaannya sekarang adalah membaca komik dan buku bergambar sendiri sebelum tidur. Tentu saja, masih butuh banyak jam terbang agar ia semakin mahir dan benar-benar memahami apa yang ia baca.

Merasa khawatir anak belum bisa membaca di era modern ini adalah hal yang wajar. Tapi perlu diingat, membaca adalah keterampilan. Semakin sering distimulasi dan diberikan ruang mengenal aksara dengan menyenangkan, anak pasti akan bisa pada waktunya.

Tulisan ini bukan sekadar omon-omon, melainkan bukti dari proses bertumbuh bersama. Ibu dan anak adalah partner terbaik dalam belajar. Jadikan proses membaca sebagai momen bonding yang indah. Dengan kasih sayang dan pelukan hangat, semoga anak-anak generasi Alpha ini bisa tumbuh menjadi generasi yang cinta aksara dan haus akan ilmu. Amin.
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar