√Catatan Perjalanan Working Mom : Pilar Parenting Anak Usia SD

Catatan Perjalanan Working Mom : Pilar Parenting Anak Usia SD

Tips parenting anak usia SD. Secara kognitif, anak SD yang umumnya berusia tujuh tahun kemampuan berpikir logisnya sedang berkembang dan lebih baik. Diimbangi dengan rasa ingin tahu yang cukup tinggi, sebagai orang tua harus sabar menjawab aneka pertanyaan darinya.

Tulisan ini saya buat, sekaligus sebagai jurnal belajar Andra. Bagaimana saya memosisikan diri sebagai working mom yang terus berusaha membersamai anak belajar. Secara akademik, karakter, mengaji, dan adab.

tips parenting anak usia sd
sumber gambar : pexel

Pilar 1: Komunikasi yang Mendalam 

Terkadang, pertanyaan saya tidak selalu dijawab Andra dengan nada dan suara yang menyenangkan. Bahkan, kadang tidak diminta untuk bercerita, Andra sudah menceritakannya sendiri.

Satu kebiasaan yang tidak pernah absen saya lakukan. Setiap pagi, mengantarnya ke depan sekolahnya dengan selalu memberikan pesan positif, "Belajar yang rajin ya Nak, baik dengan teman. Fokus dan dengarkan Bu Guru. Kalau waktunya piket juga demikian." Sehari sebelumnya, atau kalau pas ingat, saya sisipkan pesan. "Andra, jangan lupa piket hari ini ya," kemudian saya peluk dan memberikan salam.

Kalau pas mood senang, Andra bisa ngobrol banyak. Sebaliknya, jika saya berondong dengan pertanyaan tertutup, "Gimana sekolahnya?", Andra justru tidak mau menjawab. Mungkin dari segi pertanyaan tidak menarik baginya ya. Hahaha.

Memberikan ruang bagi Andra untuk terbuka, diawali dengan membangun komunikasi mendalam sejak dini. Positifnya, kebiasaan ini saya bangun sejak Andra masih balita. Selain karena emang saya LDM sama suami, bagaimanapun, satu-satunya yang membuat saya lebih mudah mengontrol perilaku dan sikapnya adalah dengan pendekatan dan komunikasi.

Menjadi pendengar yang aktif. Pernah waktu saya menyerobot ceritanya langsung memberikan justifikasi atau nasihat, yang ada adalah, "Bunda ih, dengarkan aku dulu." Sontak, saya pun diam dan sadar, "Oh iya ya, aku tadi terlalu nyolot."

Bagiku, momen belajar ini yang membuat saya kadang merenung. Anak kecil saja paham ya, ketika dia tidak didengar isi hatinya, rasa ilfeel, kecewa, dan lebih memilih diam itu ya karena feedback kita sebagai ibu, kadang terasa menggurui.

Memvalidasi emosi, hal ini pula yang menjadi pertimbangan. Sometimes, saya kadang membiarkan Andra menangis sejadi-jadinya. Tapi, kadang juga kelamaan nangisnya. Dan modelnya Andra tuh kalau disuruh diam dia justru semakin keras. Awal jadi ibu, saya tidak paham bab ini. Sehingga ikutan tantrum ketika anak sedih.

Seiring berjalannya waktu, semakin tahu bahwa kadang anak butuh dipeluk dan dimengerti dengan cara yang ramah baginya. Beberapa waktu, saya justru meninggalkan Andra beberapa saat. Agar kehadiranku tidak membuatnya makin jengkel. Ini yang unik. Tapi, begitulah adanya.

Melihat situasi dan kondisi, apa yang membuatnya sedih, marah, atau kecewa. Kalau masalahnya bisa dibahas setelah Andra tenang, saya akan nyoba untuk empati ke Andra. Jika tidak, ya dengan cara tidak ngebahas apa yang dirasakan/dialami, mungkin ini yang lebih baik. Intinya, cuma ibu yang paham perasaan anaknya.

Semakin dalam membangun komunikasi dengan anak, semakin terasah kepekaan kita sebagai ibu merespons apa pun kondisi anak. (Jika saya ada yang tidak tepat dalam mengeluarkan statement ini, mohon dibetulkan ya). Saya memberi ruang seluas-luasnya untuk para ibu sharing akan hal ini.

Pilar 2: Menghadapi Tantangan Akademis & Belajar 

Menuliskan tips parenting untuk anak SD ini seperti bercermin terhadap diri sendiri. Selama ini, saya berusaha menyelami dunia anak SD.

Mengapresiasi hal-hal kecil. Yang paling saya tanamkan, mengajarkan Andra bersyukur. Menikmati proses dan tidak harus perfect. Pernah kejadian begini. Saya bilang, "Kalau bisa nanti matematikanya dapat seratus ya Nak. Itu artinya kamu bisa." Justru, esok harinya ketika Andra mengalami kesulitan di mata pelajaran tertentu, dia amat sedih dan takut jika nanti tidak bisa mendapatkan nilai seratus.

Seketika saya merasa bersalah. Mereset otak saya sendiri dan berbenah. Saya revisi perkataan di kemudian hari, membangkitkan semangat anak. "Mas Andra, apa pun hasilnya, intinya upayakan yang terbaik. Kerjakan sendiri ya jangan menyontek. Biar hasilnya berkah. Tidak harus mendapatkan seratus. Yang penting kamu usaha dengan upaya terbaik dan jujur dalam prosesnya." Dan benar kok ya, Andra lebih enjoy.

Membangun growth mindset. Ini penting yang saya rasa sejak dini harus ditanamkan. Agar jika anak mengalami kegagalan, dia tetap enjoy dan sportif atas kompetisi (apa pun) yang diikutinya.

Menciptakan Lingkungan Belajar yang Nyaman. Karena memang baru mengalami satu anak, ada momen yang membuat saya ingat betul sebagai pembelajaran hidup. Waktu mengajari Andra membaca. Karena hal lain yang membuat saya harus segera dan membuat ayah ingin melihat bagaimana saya mengajari anak untuk bisa. Keegoisan membuat Andra semakin tidak nyaman. Ada bentakan, cenderung menyalahkan sehingga Andra mokong (bahasa Jawa Timuran). Hingga mengalihkan tangan ke guru TK Andra dan meminta tolong. Dalam prosesnya, Andra sangat lambat untuk bisa baca.

Yang menjadi lecutan keras adalah, ketika emosi ibu tidak stabil karena lingkungan yang mengancam kondisi psikologis ibu, hal itu akan menular ke emosi anak. Mungkin bahasa tepatnya, ketika peran ayah tidak sepemahaman terhadap istri dalam mendidik anak, jatuhnya akan saling menyalahkan dan menjatuhkan. Semoga ini tidak terjadi pada pembaca setia blog Windieastuti.

tips parenting anak usia sd
sumber gambar : pexel


Pilar 3: Membangun Karakter & Kemandirian (Life Skills) Tanggung Jawab di Rumah

Beberapa pilar dari sekian pilar yang saya upayakan terus. Di rumah ada 3 laki-laki. Yang menurut perempuan satu di rumah, dalam menaruh barang tidak pada tempatnya, melihat benda berserakan rasanya tuh kayak singa yang ingin menerkam mangsanya.

Secara lisan sebenarnya saya sudah mengimbangi dengan teladan. Mungkin karena distraksi yang membuat anak hanya mendengar dari telinga saja, ketika dia tidak fokus pada perintah jatuhnya adalah tidak dilakukan. Pun ketika perintah terlalu banyak, anak laki-laki justru bingung mau melakukan yang mana dulu.

Mulai dari hal sederhana yang anak bisa. Sebagai contoh, menata jadwal sendiri, mengambil seragam sendiri, menyiapkan kaus kaki sendiri. Bahkan untuk pakai seragam dan pakai sepatu saya biasakan sendiri.

Perihal manajemen waktu

Saya masih terus belajar. Tips parenting untuk anak SD ini bagian paling menohok yang membuat saya kadang bersikap tegas atau sebaliknya. Sudah berulang kali bikin batasan, nyatanya zonk. Baru berhasil untuk main game, saya batasi. Untuk belajar di jam 8 malam semua aktivitas harus ditinggalkan, ini yang masih tarik ulur. Kadang, sayanya juga belum selesai di urusan rumah tangga. Aktivitas beralih dari sekolah ke rumah bagi working mom yang membangun long distance marriage dan tanpa ART, bukan hal mudah bagi saya.

Etika dan Empati

Mencoba mengingat, tatkala saya benar-benar harus meneteskan air mata di depan anak sebab suatu hal, Andra langsung peka. Mengelus pundak dan kedewasaannya ditampakkan. Tanpa saya perintah atas kebiasaan yang saya upayakan, secara langsung dia bergerak.

Selain itu, saya upayakan tambahan pengingat secara lisan untuk tetap jadi orang baik. Peduli dengan teman, tidak menyakiti, dan tidak mengusik kehidupan temannya melalui ngobrol atau bercerita.

Satu lagi, pillow talk yang saya biasakan sebelum tidur, sangat mujarab membekali Andra hal-hal baik. Dengan catatan dilakukan secara konsisten.

Pilar 4: Parenting di Era Digital (Digital Literacy) 

Aturan screen time yang uwooo untuk anak SD. Inginnya tegas untuk aturan di rumah. Namun, ketika anak tetangga mengajak main game, apalah daya. Kadang pikiran dalam otakku bertaburan. "Nanti kalau anak mancing keluar dan saya tidak bisa mengontrol bagaimana ya? Jika anak lebih banyak main di rumah karena tidak diberi waktu main game bagaimana ya? Kalau nanti Andra tantrum tak berkesudahan bagaimana ya, karena mengancam tidak diberi waktu main game?"

Saya tetap memberikan waktu bermain game atau screen time dengan berbagai upaya Andra harus disiplin waktu. Tahu kapan mulainya, harus sepakat atas aturan yang dibuat bersama. Sepakat akan selesai di jam sekian. Saya buat patokan, misal ya. "Jarum jam di angka 10 mulai main game, maka berhentinya di jarum pendek angka 11".

Edukasi Keamanan Internet. 

Bisa dikatakan saya terus mengingatkan Andra dan anak tetangga kalau ada iklan orang dewasa/anak ciuman, pakai pakaian yang kelihatan bagian intim, ciuman dan pelukan, saya akan bahas kondisi tersebut. Dengan bahasa yang sederhana dan tetap mengontrol diksi agar anak paham maksudnya. Untuk tontonan apa pun.

Kadang saya berandai-andai. Jika saya dan suami punya banyak duit dan waktu. Saya akan mengajak anak pergi ke mana pun untuk menghilangkan screen time dengan berkunjung ke tempat edukasi dan ramah anak agar energinya tersalurkan. Wallahu a'lam bishawab.

Pendampingan, Bukan Penjagaan Ketat. 

Menyadari betul, bahwa saya adalah ibu dengan keterbatasan waktu. Pagi jam 7 sampai jam 12, anak berada di sekolah. Banyak tantangan yang dia dapat. Mulai dari pertemanan dan apa pun yang mungkin tidak pernah saya bahas di rumah. Namun, saya terus belajar untuk membekali anak bagaimana harus bersikap tanpa harus melabeli atau memarahi. Bisa saja, pemikiran anak baru di level 1. Sedangkan kita sebagai orang tua sudah berada di level 6 yang mana usia anak sekarang sudah kita lewati beberapa tahun lalu. Setidaknya, terus berusaha menjaga amanah dengan baik atas izin Allah, semoga Allah menjaga anakku di mana pun berada, dijauhi dari masalah besar yang menjerumuskan pada buruknya masa depan. Saya pasrahkan kepada Sang Pencipta ketika saya tak berada di sisi dan di hadapan anak.

Pilar 5: Kesehatan Mental dan Keseimbangan Anak 

Andra kalau tidak bermain dengan temannya di rumah, berasa oleng. "Aku main apa? Aku bosen Bunda, aku ingin main!" Kadang tantrum nggak jelas dan caper inginnya diajak main temannya. Bersyukur sih, Andra masih ada jiwa yang mana dia butuh teman bermain.

Hanya bermain lempar sandal dan kejar-kejaran baginya sangat menghibur. Bisa bermain sepak bola bersama temannya adalah kebahagiaan baginya. Bisa main bakar-bakaran itu menyenangkan. Masyaallah ya Nak..

Kualitas tidur dan nutrisi Kalau kecapekan karena bermain, duh ini tantangan bagi saya. Seenggaknya, saya pun membatasi Andra jika pukul 8 malam harus sudah balik ke rumah. Kalau belum pulang, saya cari dan suruh pulang. Pernah diprotes Andra, karena masih ingin bermain dengan teman-temannya. Kalau besoknya hari libur sekolah, saya beri izin. Dan tetap beri batasan waktu agar dia paham, kapan harus pulang dan kapan harus berhenti bermain karena malam-malam bukan waktu bebas anak untuk bermain terus.

Sebab itu, kualitas tidur sangat menjadi catatan. Kalau Andra kecapekan dan esoknya masuk sekolah, luar biasa membangunkannya. Butuh effort lebih. Kadang pasang alarm juga alarmnya cuma dimatikan dan selebihnya balik tidur. Hemm. Kualitas tidur menjadi penentu emosi dan kestabilan pikiran anak agar dia enjoy menjalani kesehariannya.

Lantaran hal itulah, mengenali stres anak akibat kelelahan, adalah hal wajib yang harus dimiliki ibu untuk lebih peka ke perkembangan anak.

Penutup 

Masa SD merupakan masa penting, menanamkan fondasi karakter baik bagi anak. Tips parenting anak SD yang saya tulis ini masih banyak kekurangan. Tulisan ini dibuat bukan untuk menggurui. Melainkan, sebagai pengingat bahwa saya masih terus berusaha membersamai anak sesuai dengan haknya sebagai anak. Memperoleh pendidikan yang layak, mendapatkan haknya bermain, mendapatkan haknya untuk kasih sayang, menghargai hal kecil yang dilakukannya, serta haknya sebagai anak untuk mendapatkan support yang baik. Sehingga ia dapat tumbuh dan berkembang sesuai teladan orang tua dan agama yang dianutnya. Parenting bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang bertumbuh bersama anak.

Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar