Ganti Judul dan ALt sendiri

Merdeka Belajar , Membantu Anak Menemukan Potensi Yang Dimiliki Sebagai Bekal Kelak

Merdeka Belajar

aku, nggak mau sekolah

aku nggak mau sekolah
Nada protes yang diucapkan tanpa merasa beban apapun dari seorang balita berusia tiga puluh tujuh bulan. Saya kerab mendapati protes darinya, saat mengajak Andra untuk bermain di full daycare ketika saya mengajar di sekolah.

Andra, anak pertama dan masih menjadi anak tunggal dirumah. Seorang bayi laki-laki yang terlahir normal di sebuah klinik di kota sejuta bunga sekarang beranjak dewasa. Kemampuan bicaranya yang semakin mahir, dan sudah banyak kosakata yang bisa dikeluarkan.

Bisa dibilang Andra ini cerewet kalau dirumah. Hal apa yang dirasa tidak sesuai isi hati pasti dia protes. Bahkan mengeluarkan beberapa pertanyaan saat dia belum mendapatkan jawaban yang diinginkan.

Hal berbeda saya dapati, ketika bertanya kepada guru sekaligus pengasuhnya di salah satu full daycare kota Kediri. Andra cenderung minim protes, berbicara seperlunya bahkan tergolong pendiam.

Kondisi yang amat berbeda saya temukan. Kami menyadari, Andra tumbuh menjadi anak yang cenderung lama soal beradaptasi dengan lingkungan baru.

Memaknai Konsep Merdeka Belajar

Bermain adalah dunianya anak-anak. Hal yang membuat saya melek untuk memberikan stimulasi yang tepat sesuai usia perkembangan anak. 

Hampir dua tahun menikmati masa fulltime mom membuat saya bahagia bisa memantau secara langsung tumbung kembangnya. Sehingga muncul kepekaan tersendiri terhadap apa-apa yang terjadi pada anak, walau tidak semuanya. Namun, sebagian besar semua orangtua sudah selayaknya memiliki kepekaan lebih untuk merespon kebutuhan anak.

Apalagi untuk anak diusia emas. Usia yang masih membutuhkan bimbingan, teladan, suport penuh untuk membentuk bonding yang berkarakter dari rumah.

Jika ibu bahagia, emosi bahagia akan menular ke anak
Memaknai konsep merdeka belajar yang digaungkan oleh Pak Nadiem , selaksa mencium bau perubahan terhadap pendidikan yang ada di Indonesia. Mengusung konsep dimana lembaga pendidikan diberi kemerdekaan untuk mengarahkan peserta didiknya mencapai keberhasilan sesuai potensi, bakat dan minat yang dimiliki.

Merdeka Belajar

Tetap ada rasa was-was, terhadap sistem yang diterapkan di Indonesia kedepannya. Apakah sudah disesuaikan dengan tugas perkembangan anak sesuai usianya ? Melihat perkembangan Andra yang tidak bisa dipaksa untuk melakukan suatu hal, membuat saya berfikir persiapan apa saja yang harus saya gali sebagai bekal nanti Andra masuk kelas satu sekolah dasar. Dimana keharusan bisa membaca dan menulis sebagai syarat .

Tiga Bulan Pertama Andra Mengenal Lebih Dekat Dunia Full Daycare

Empat hari di minggu ketiga bulan juni 2021, saya disuruh masuk kepala sekolah untuk dikenalkan dengan guru lainnya. Saat itu pula Andra mulai bersinggungan dengan dunia bermain yang agak luas. Belajar mengenal teman baru, jadwal baru, pendamping bermain di tempat baru dan beberapa hal lainnya. Termasuk harus menyesuaikan jadwal saya mengajar. Berangkat pagi dan pulang sore.

Andra menangis saat saya tinggal kerja sudah menjadi rutinitas dipagi hari. Nada protes tidak mau sekolah masih menjadi langganan. Cukup membuat saya bingung, jika nanti jam efektif belajar sudah mulai normal. Tidak ada kata pembelaan diri untuk tidak terlambat dengan alasan anak tidak bisa diajak kompromi.

Pertengahan bulan september, Andra menunjukkan hal menakjubkan diluar duugaan. Saat saya menghendaki berangkat jam enam lebih dari rumah, Andra mulai menunjukkan sikap agak dewasa. Tidak menangis saat dipamiti dan sudah mulai menyesuaikan rutinitas sesuai jadwal di daycare. Alhamdulillah.
Benar, andra typikal anak yang cukup lama untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.
Rasa haru campur bahagia tentu ada. Satu persoalan sudah mendapatkan solusi. Sisi lain, bagaimana saya bisa memantau pertumbuhan dan perkembangannya selama saya tinggal mengajar di sekolah ?

Andra punya dunianya sendiri. Mungkin cukup idealis saya ingin mengarahkan Andra sesuai ekspektasi saya. Namun, dia punya kemauan sendiri menikmati masa usia emasnya.

Hal ini sangat nampak saat saya membuatkan permainan dari barang bekas dan ingin menstimulasi bagian motorik halusnya, dia kerab tidak bertahan lama untuk menikmati permainan itu.

Sehingga membuat saya berputus asa, dan mengurungkan niat membuatkan permainan yang lain. Padahal, jika mengikuti langkah teman dengan permainan yang sama, bahan yang sama dan metode yang sama ternyata anak punya cara tersendiri permainan yang dia minati.

Sadar, bahwa cara anak belajar itu unik. Apalagi typikal seperti Andra yang mudah bosan dengan permainan yang menurutnya tidak menarik. Wis pasti, permainan itu tidak akan dilirik lagi. Sangat beda jika dia suka dengan permainannya, dia merasa nyaman maka dia akan memainkan permainan itu bahkan sampai diulang berkali-kali sampai dia berhenti dengan sendirinya.

Saya bermimpi, bisa menemukan bakatnya sejak dini. Sehingga bisa memberikan dia wadah untuk bertumbuh dengan potensi yang dia miliki. Aktivitas jurnaling yang selama ini saya lakukan, semoga kelak bisa menuai hasil dan memberikan kemudahan saya untuk merekam segala aktivitasnya.

Impian Kami : Andra Tumbuh Menjadi Anak yang Cerdas, Berbudi Pekerti Luhur Sesuai Nilai-Nilai Pancasila


Yang kami pahami dengan kondisi anak sekarang, andra tidak bisa dipaksa untuk hal apapun. Hal inilah yang cukup membuat kami memutar otak, bagaimana menyampaikan pesan agar bisa diterima olehnya.

Sikap protes yang sudah ada dirinya, menjadi alasan kami untuk terus berbenah. Prinsip kami, memberikan pilihan kepada anak untuk hal apapun. Membimbingnya jika pilihannya melenceng ke hal yang negatif (barangkali) dan bersifat merugikan bahkan akan membuat dia celaka.

Butuh ramuan merangkai kalimat sederhana dan mudah dipahami olehnya. Karena seringkali diartikan melarang dan berujung dia marah, berontak sehingga menimbulkan tantrum berlebih. Kami terus berikhtiar, menyiapkan pola pendidikan dan penanaman karakter dari rumah yang pas sesuai dengan keingingannya.

Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah
~ Ki Hadjar Dewantoro ~

Mungkin masih belum nampak dari sekarang, usaha kami. Bukankah proses tidak akan pernah mengkhianati hasil ?

Merdeka Belajar


Kami berkomitmen untuk terus mendampingi, agar dia bisa tumbuh menjadi pribadi mandiri dengan membawa bekal yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan. Beginilah upaya kami, mencoba terus memberikan stimulasi untuk perkembangan motorik halus dan motorik kasar anak memalui aktivitas bermain.

Merdeka Belajar


Bermain adalah dunia anak-anak. Dimana melalui bermain anak juga bisa sambil belajar mengasah kemampuan yang dia miliki.

1. Membiasakan sejak dini gemar membaca

Melalui membaca nyaring, kami bermimpi agar kelak andra tumbuh menjadi anak yang gemar membaca, berani mengemukakakan pendapat, pandai menganalisa, dan dia kaya akan informasi dari aktivitas membaca. Hal lain yang utama, agar kebiasaan gemar membaca muncul dengan sendirinya tanpa dipaksa.

2. Mengajak anak bermain di luar

Kerab andra mengalami kebosanan saat bermain yang itu-itu saja. Mengajaknya ke sawah, keliling perumahan sekitar, bermain di halaman yang lebih luas cukup memberikan suasana baru untuknya.

Kami pernah membawa bekal camilan, air minum, susu dan perlengkapan ala piknik lainnya. Hanya untuk mendapatkan moment seperti di tempat wisata agar dia merasa senang.

3. Melatih Empaty Anak Melalui Practical Life Sejak Dini

Mengajak anak terlibat melakukan aktivitas dari rumah sungguh menyenangkan. Andra senang ketika saya sedang memasak. Biasanya dia ikut membantu memotong sayur walau tidak sampai selesai. Kadang dia juga ikut membersamai saya menggoreng ikan.

Kalau bersama ayahnya biasanya dia suka bantu membersihkan quarium, bantu menanam dan kasih makan ikan.

Banak cara yang bisa ditularkan ke anak aktivitas keseharian yang sangat membantu mengasah empaty anak sejak dini.

4. Menjalin komunikasi dua arah yang jujur untuk segala hal

Kerab kami melakukan hal ini. Membiasakan andra bercerita atau kami yang tanya kondisinya saat di daycare. Belajar apa?, tadi main apa? Dan lain-lain.

Sehingga kalau pas saya jemput dia pasti menyampaikan dengan sendirinya, urutan aktivias yang dia lakukan. Kami memprioritaskan untuk bersikap jujur dalam hal apapun.

5. Membiasakan Andra Mengenal Sholat dan Mengaji

Penanaman akidah paling tepat memang diusia 6 tahun. Kami mulai mengenalkannya dengan kebiasaan kami mengaji dan sholat dengan memberikan ajakan ke andra. Meski seringnya dia menolak atau melakukan aktivitas lainnya, kelak supaya dia faham bahwa ayah dan ibunya juga melakukan ibadah sebagai bentuk mendekatkan diri pada sang pencipta.

6. Meluangkan Waktu Tanpa Adanya Distraksi Apapun

Semoga hal ini bisa kami lakukan secara konsisten sampai usia andra 15 tahun. Membersamainya bermain tanpa adanya distraksi apapun. Seperti mendampingi bermain sambil memegang gadget. Big No!.

Enam kebiasaan diatas disesuaikan dengan usia anak. Point terpenting adalah masa kecil anak terpenuhi dengan bonding dan penanaman karakter dari rumah.

Apa Yang Harus Kami Lakukan Untuk Membantu Anak Menemukan Minat dan Bakatnya ?

1. Memberikan ruang kepada anak untuk berkarya

Kami sebagai orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik buat anak. Persiapan dana pendidikan sedang kami siapkan. Termasuk memenuhi keinginannya untuk berkarya sesuai passion.

2. Membersamai setiap langkahnya

Masih belum berpegang teguh pendirian. Nalar saja masih on process. Wajib, bagi orangtua untuk membersamainya dalam melangkah.

Menikmati masa golden age penuh dengan rasa bahagia dan kasih sayang. Agar anak tak kehilangan sosok ayah maupun ibunya.

3. Mencatat segala pencapaian anak sekecil apapun.

Kami mulai menuliskan jurnal khusus perkembangan anak dari segi belajar, cara bersosial, makan dan sikapnya. Kelak, akan terpantau bagaimana andra berproses sejak kecil sampai dewasa.

4. Menjalin Komunikasi dan Kasih Sounding

Sering menjalin komunikasi dengan anak sangat membantu. Moment ini menjadi hal mengesankan sebelum tidur, terutama. Sekaligus sounding anak jika kami ingin mengharapkan perubahan baik darinya.

Pasti ada kumpul bersama untuk merefleksikan kegiatan selama bangun tidur sampai tidur lagi. Atau pas sama-sama ada waktu luang dari ayah dan ibu untuk ngobrol ringan bareng anak.

Kami yang saat ini menjadi orangtua, tidak ingin kekurangan dalam menempuh pendidikan di masa kecil dialami dengan hal yang sama oleh anak kami, terutama. Pasti akan sama dengan keinginan orangtua, atau para pendidik yang ada di Indonesia untuk anak yang lainnya.

Sebagai ibu, seorang pendidik dan orangtua bukan hanya sebatas bertanggung jawab namun harus terlibat didalamnya. Jalan pendidikan masih panjang, semoga ada sistem jelas yang menuai bukti nyata bahwa pendidikan di indonesia tidak menuntut anak harus bisa ini dan itu yang dianggap memberatkan.

Related Posts

Posting Komentar