Mengenali Karakter Anak Sejak Usia Balita (Sebuah Jurnal Anak)

9 komentar

Kenali Karakter Anak Sejak Usia Balita, Penting untuk Dukung Perkembangannya. Menjadi orangtua bukan hal yang mudah ya. Bukan berarti mendidik anak juga identik dengan kata sulit.

Lantaran demikian, saya terus berdoa semoga ditambah momongan lagi. Hehe. Diluar sana sedang booming isue cildfree, saya malah kebalikannya. Tidak ada yang rempong didunia ini. Saya yakin, bahwa amanah berupa anak adalah suatu anugerah terindah. Banyak modul pembelajaran dari setiap anak yang lahir dari rahim kita. Yakin akan hal itu.

Pembelajaran berharga pula, manakala ngebahas perilaku anak jaman now? Hemmm, menjadi guru BK cukup buat saya kenyang menikmati proses menjadi orangtua itu harus terus beradaptasi serta belajar. 

Sisi lain, kadang ada ketakutan sendiri dan berpikir "apakah saya besok mampu mendidik anak sendiri jadi lebih baik?". Lantaran demikian, selalu bersyukur di setiap prosesnya meski diuji dengan tantrum anak. Saya yakin, surga dibawah telapak kaki ibu akan tetap berlaku.

Mengenali Karakter Anak Sejak Usia Balita

Dilema sebenarnya. Tapi, tidak boleh larut dengan keadaan. Kali ini, saya ingin mendokumentasikan kisah menggemaskan si kecil yang menurutku ada beberapa hal harus dihighligt. Buat diri sendiri sih, bukan untuk diumbar. Mencatat jurnal anak sebagai rekam perjalanan untuk merekam seberapa sering saya memperhatikan perkembangan anak (kalau saya ).

Mengenali Karakter Anak Sejak Usia Dini

Sedini mungkin, orangtua paham karakter anak akan lebih baik untuk memberikan stimulasi bagi anak. Semakin sering bersinggungan dengan anak sendiri, sense of akan semakin terasah karena kita sendiri yang merawat anak.

Sebagai ibu bekerja, kalimat tersebut menjadi hal utama yang terus saya perjuangkan. Bagaimana sikap saya untuk tetap adil dalam berperan, yaitu sebegai ibu bekerja dan ibu rumah tangga.

Alhamdulillah, mulai dibukakan dan cukup senang ketika melihat millestone anak sendiri. Bahkan usianya yang kini sudah memasuki 4+, ada sikap yang sama dan masih melekat pada sang buah hati. Enggak bisa jauh dengan saya. Hahaha, karena emang kami dirumah cuma berdua, jadi dari bangun tidur sampai tidur lagi kita selalu bersama. Hanya jam kerja saja kami terpisah jarak dan waktu.

Mengenali karakter anak, penting untuk dicatat. Anak semakin dewasa, semakin kentara juga karakternya yang bermunculan. Yang tanpa disadari, hlo, anakku kok pemarah ya, anakku kok usil ya, sebagai contoh.

Iya juga sih, berasa baru kemarin melahirkan, sekarang anak pertama sudah semakin bertambah usia. Mulai bermunculan karakter anak, yang terkadang saya pikir dalam, cukup buat pusing juga ya ☺

Tingkat Aktivitas Anak

Keseluruhan, si kecil suka dengan aktivitas yang membutuhkan energi banyak, seperti lari, main bola, lompat dan bersepeda. Sedangkan untuk aktivitas yang membutuhkan duduk dengan durasi lama hanya bermain pasir warna yang selama ini saya sorot. Main puzzle, bermain lego, mewarnai dan menggambar bisa dikatakan dalam level sedang. Tidak lama tapi kadang sebentar banget. Apa karena anak cowok ya?

Sosialisasi

Soal sosialisasi, si kecil butuh waktu yang cukup untuk dirinya mengenal lingkungan baru serta suasana baru termasuk soal pembiasaan. Butuh kesabaran ekstra juga, mengingat dibawah 7 tahun anak cenderung suka hal spontan dan tidakaturan. Misalnya, soal tidur siang. Saya maunya anak tidur di jam dua siang, seringnya si kecil tidak mau. Masih ingin main katanya.

Apalagi soal makanan, bisa dikatakan cukup lama untuk bisa dibilang "yes" olehnya dari segi rasa dan tampilan. Kebetulan tastenya si kecil adalah manis. Segala jajan maunya yang ada manisnya, kalau lauk atau makan tidak demikian sih, gurih, renyah, dan ada kriuknya dia pasti suka sekali. Sampai sekarang, ikan lele goreng masih jadi favoritnya.

Mudah Beradaptasi

Bukan susah beradaptasi, hanya saja butuh pemahaman luas dan stok sabar lagi. Adaptasinya ini juga lama. Asal emaknye tidak mudah worry, mengenalkan hal baru baginya adalah hal menarik. Dulu, minimal 3 bulan adaptasi di daycare kali pertama. Alhamdulillah, sekarang sudah lebih baik.

Kalau nginep begitu, si kecil sering menguji emaknye. Tempat bersih baru dia bisa bobok pules. Untuk makan, harus berulang kali sounding dan mengenalkan. Makanan baru, pasti si kecil tolak. Kalau ada teman sebaya atau sohib karibnya, makan bareng begitu kadang dia mau. PR bangetlah pokoknya.

Keteraturan

Sudah sedikit saya singgung diatas, soal keteraturan ini si kecil sanat kurang. Bahkan ketika mak mau ajak main puzzle, contohnya. Si kecil enggak minat sama sekali. Sampai nganggur dua tahun itu mainan. Baru mau saya ajak main puzzle dan menikmati di usia sekitar 3+ menuju 4+. Maklum, emak kadang ingin anak orang buat belajar sabar melalui main puzzle.

Ternyata, capaian anak terhadap suatu hal tidaklah sama dengan harapan kita. Pembelajaran banget. Oleh sebab itu, awal menjadi ibu baru, saya sering idealis mempertahankan keinginan. Yang ternyata, keinginan anak dan keinginan mak punya standar sendiri-sendiri.
Anak belum paham, dan memang belum masuk tahap logika (karena usia dibawah 7 tahun) sangat wajar bila anak kecil seringnya suka-suka dia.

Kegigihan Anak

Banyak gerak, dan bisa dikatakan motorik kasarnya lebih cepat berkembang. Si kecil gigih, manakala melakukan aktivitas yang banyak prakteknya. Bikin jeruk peras, bantu emaknye mixer es krim, bantu emaknye mencuci baju, mencuci motor dan banyak hal lain terkait apapun yang saya lakukan ingin juga dia lakukan.

Awalnya ribet, lama-lama saya sadar diri. Ternyata keinginan besar anak buat to do apa yang ibunya lakukan bisa jadi perantara bondingtime sekaligus berkegiatan seru yang di dalamnya ada momentum belajar juga. Meski butuh waktu 10kali lipat lebih lama bila dikerjakan sendiri, karena ini enggak bakal terulang lagi, orangtua bisa memberikan waktu tersebut buat anak bereksplorasi.

Masha allah ya, menjadi ibu itu secara otomatis diberikan installan yang alamiah dari Allah. Sedini mungkin. Bisa menguasai banyak hal seiring berjalannya waktu. Termasuk memahami kemauan anak agar bisa menjadi perantara mendukung tumbuh kembang anak. Nikmat tiada tara yang enggak bakal bisa di definisikan oleh orang lain selain ibu.

Sebab itu, mengenali karakter anak sejak dini merupakan potensi baik. Yang bila diamalkan dan dinikmati prosesnya menjadi suatu keberkahan bagi orangtua. Melekatkan hubungan orangtua dan anak serta bakal mendapati banyak manfaat sebagai makhluk pembelajar sepanjang hayat, menjadi ibu.

Mengenali Karakter Anak Sejak Usia Balita

Semoga kelak, ini menjadi bukti kecintaan kami kepadamu ya anak. Inilah catatan penting di jurnal bunda ketika emakmu ini mencatat perilaku unikmu sebagai bukti perjalanan emak menjadi ibumu.

Related Posts

9 komentar

  1. Mengenali karakter anak sejak dini menjadi sebuah keharusan bagi orang tua. Apalagi kalau kita sebagai orang tua baru, harus lebih intens, lebih sabar dalam berproses mengenali karakter anak

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah, bersyukur kita diberi amanah anak dalam kehidupan ini sehingga dapat merasakan dinamika dalam pengasuhannya.
    Karakter anak memang unik dan berbeda setiap individunya dan dengan itu kita diberi kesempatan untuk mengenal sifat dan karakter itu

    BalasHapus
  3. Jurnal perkembangan anak memang harus ada ya supaya orang tua tahu setiap tahapan apakah tercapai atau ada yang terlewat

    BalasHapus
  4. Tidak mudah menjadi orang tua yang baik. Apalagi di zaman seperti ini. Banyak sekali distraction yang berpotensi menjauhkan hubungan orang tua dan anak.
    Salah satu pillow talk ku adalah masalah anak, yang makin lama makin paham bagaimana karakter anak kita. Makasih kak, sudah diarahkan...

    BalasHapus
  5. Diberi kemudahan memiliki momongan adalah kenikmatan yang mahal ya, mba. Masih banyak juga pejuang garis dua yang masih terus ikhtiar untuk menjemput calon buah hati. Rasanya amanah yang Allah berikan pastilah disertai dengan kemudahannya.

    Ngomong-ngomong mengenali karakter anak sejak usia balita menjadi hal yang penting ya, mba. Dengan begitu, kita sebagai orang tua menjadi tau apa saja yang dibutuhkan oleh si kecil. Dan, semoga kita sebagai orang tua selalu Allah mampukan untuk memberikan yang terbaik.

    BalasHapus
  6. Setuju, anak adalah anugerah terindah yang terus membuat saya belajar dan saya menikmati setiap prosesnya 😃

    BalasHapus
  7. Wah baca ini jadi bikin reminder nih buatku pribadi, kadang suka ke skip bikin jurnal anak. Padahal jurnal begini bikin ortu lebih mudah tracking perkembangan anak tiap harinya dan jadi tahu mana yang harus ekstra stimulasi dan mana yang bisa digali lagi. Semoga selalu konsisten menemani anak bertumbuh agar mencapai karakter terbaiknya dan bisa menemukan misi hidup mereka kelak :)

    BalasHapus
  8. Sepakat, anak adalah anugerah yang indah, penerus amal, guru kehidupan bagi saya, banyak hal yang saya pelajari setelah mempunyai anak
    nikmati aja prosesnya, karena tidak semuanya dianugerahi anak, semoga Allah memampukan saya dan suami dapat menjaga amanah yang telah diberikan olehNya

    BalasHapus
  9. MasyaAllah keren banget ini emaknya sampe bikin jurnal begini, jadi pengen niru deh, hehhe..

    Aku setuju mbak, jadi ibu itu walaupun super duper lelah tapi bener-bener anugerah terindah. Nikmat kayak gini emang gak bisa dirasakan sama mereka yang bukan ibu atau belum punya anak..

    Jadi pas ada heboh-hebohnya childfree itu tuh aku cuma senyumih aja lah. Wong dia ga ngerti kan, dijelasin model apapun keknya tetep gak ngerti kalo kekeuh gitu pendiriannya.. Hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar