Menjadi Ibu Seutuhnya Bersama Ibu Profesional

menjadi ibu seutuhnya bersama ibu profesional

Siapa sangka, stadium general yang awalnya enggak ingin saya ikuti secara live di FB group, membuat saya terpaksa untuk lanjut. Awalnya hanya modal kuping saya tutup sama headshet sony. Namun, karena makin lama kalimat Pak Dodik menyihir hati, jadinya lanjut ikut sesi live berlangsung. Ya meski harus berakhir, mata saya tetiba terpenjam dengan sendirinya, efek lelah beraktivitas seharian di sekolah.

Saya masih tetap menyimak ulang record sebagai bentuk ikhtiar lanjut di kelas matrikulasi. Up and down ya, semangat ini. Hampir tak bisa ku sempatkan untuk beneran belajar menjadi ibu seutuhnya di ibu profesional. Setelah mengecek lagi big why kenapa belajar di Ibu Profesional, show must go on deh. Bismillah. Sayang sudah mau masuk post 7.

Peran Ibu, Peran Mulia

Ku lanjutkan membaca ebook yang diramu dengan kalimat menenangkan, justru membuat aku berpikir dalam. Tercetus dalam diri, apakah aku sudah menjalani peran ibu seutuhnya dengan baik ? Bukankah ini, salah satu bagian petunjuk yang selama ini saya cari ? apa makna dari seorang ibu itu ?

Ibu adalah anugerah terindah yang saya jalani sebagai seorang wanita. Bermula dari sosok wanita yang kurang peduli, namun ketika Allah telah memberikan kesempatan untuk mengandung dan melahirkan. Peran ibu mengubah dunia saya.
Bisa dibilang, aku mulai berbenah dan terus belajar memaknai peran menjadi ibu. Berdamai dengan pekerjaan rumah tangga yang tiada habisnya. Proses menyatukan komunikasi dengan pasangan yang kala itu ego masih tinggi. Hingga soal saling meminta kasih sayang karena maklum, awal menikah harus long diatance marriage. Semacam karet yang kalau di pentalkan bakal lari tidak karuan.

Lantaran hal itulah, dibubuhi obrolan penting awal menikah, suami mengharapkan visi dan misi keluarga terarah. Menjadi wanita, ibu rumah tangga sekaligus menjadi istri yang baik bagi anak.

Hah, kalau ingat kala itu rasanya aku ingin lari dari keadaan.

Hanya saja, tak mungkin aku lakukan karena aku telah berpegang teguh bahwa pilihan yang karena Allah semata apapun kondisinya bakal aku lalui.

Kekuatan seorang ibu, yang mewarnai kesungguhan ku untuk terus beradaptasi dan berdamai dengan keadaan. My mother is my Inspiration. Akun terlahir dari rahim ibuku, maka ibuku lah sumber inspirasi ku. Terbata mengeja maknanya, dengan sekuat tenaga aku terus memaknai kehidupan rumah tangga yang aku bangun.

Satu kalimat yang aku pegang sampai sekarang, seorang ibu harus kuat. Ibu adalah ujung tonggak sebuah kemerdekaan. Layaknya untaian kata yang disematkan Pak Dodik dalam ebook ibu profesional, ibu merdeka bakal membuat anak-anaknya merdeka pula.

Ibu, peran yang tak bisa tergantikan, karena anak lahir dari rahim seorang ibu dan ibulah yang bakal menjadi penanggungjawab utama masa depan anak, kelak.

Sepakatkah dengan pernyataan tersebut ?
Surah Luqman ayat 14
Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.
Bahwa, sosok ibu telah terinstall naluri keibuan yang mana saat rahim terdeteksi janin, apapun kondisi ibu berusaha untuk kuat. Melawan segala hal termasuk menghadapi rasa mual, muntah, enggak enak badan, dan lainnya.

Kebayang, betapa effort nya sosok ibu. Dan dilanjutkan dengan menyusui anak sampai usia 2 tahun.

Ibu Merdeka Kebanggan Keluarga

Merdeka, bukan berarti harus bebas dari segala peran. Justru kata merdeka inilah yang harus terus dipelajari. Bagaimana menikmati peran menjadi ibu tanpa merasa beban, mengeluh bahkan terpaksa.

Saat tahu bahwa ibu Septipun diawal sempat menangis hanya karena "kenapa peran ibu sangatlah berat seperti ini"?, waktu untuk main sama anak saja kurang. Sontak, akupun throwback ketika awal dimana menjadi ibu yang dituntut untuk mandiri, hidup jauh dari orangtua, tanpa pembantu dan harus bisa handle pekerjaan ibu rumah tangga seutuhnya. Tak apa menangis, kala itu. Tapi, ibu harus tetap kuat menghadapi semuanya. Semua ada masanya.

Menulusur lebih dalam lagi terkait apa yang aku tangkap dari stadium general yang disampaikan langsung oleh Pak Dodi, dari sisi seorang bapak (Laki-laki). Bahwa indikator ibu yang merdeka, ibu profesional adalah kebanggaan keluarga.

Tak ada lagi sosok kak Ros dalam rumah. Tak ada bentakan, cacian, keluhan serta afirmasi negatif yang tak seharusnya ada dalam rumah tangga.

Maka, untuk mewujudkan hal itu, ibu harus kuat. Ibu tidak boleh lemah dan menyerah dengan keadaan. Ibu BISA, menjalani peran seutuhnya menjadi wanita, istri dan ibu dari anak-anak generasi hebat.

Memantaskan Diri Menjadi Ibu Seutuhnya

Kalau mencermati dari analogi piramida yang digagas oleh Pak Dodik jaman mahasiswa, untuk tahun 2023 masih relevan. Entah untuk tahun berikutnya. Bukan hal penting bagiku. Jika menelusur lebih, inti dari piramida yang tercantum dalam e book ibu profesional, bahwa perempuan yang mendapatkan gelar menjadi istri akan menurun tingkat percaya dirinya sejak itu juga. Maka, butuh ruang dan waktu untuk terus mengembangkan diri, belajar mengelola keluarga, mampu mendidik anak dan mengembangkannya.

Beberapa alasan yang aku rasa sederhana di kata tapi deep banget untuk direalisasikan. Hingga aku menyimpulkan bahwa, setiap bapak (laki-laki) memang butuh wanita yang bisa mendidik anaknya, hebat mengelola keluarga, serta mampu menjadikan generasinya menjadi generasi peradaban yang berakhlakul karimah. Satu poin yang saya garis bawahi dan itu sama persis dengan keinginan suami.

Lantaran hal itulah, ketika bertemu teman bertumbuh ibu profesional. Rasa-rasanya aku semakin haus untuk belajar menjadi ibu yang seutuhnya. Minimal, bisa menjadi kebanggaan anak dan suami. Ada perubahan yang pasti dan nyata dari segala hal. Meski, cukup cenut-cenut memperjuangkannya ketika niat sudah ada semoga Allah ridlo dan beri kemudahan untuk mewujudkan apa yang menjadi tujuan utama kami membangun bahtera rumah tangga.

Kunci, ada pada diriku. Seberapa jauh mau melangkah menjemput impian menjadi ibu kebanggan anak dan suami.

andai kata ada 1000 perempuan yang memperjuangkan pendidikan ibu dan keluarga, maka salah satunya adalah saya
Andai kata ada 10 perempuan yang mau memperjuangkan pendidikan ibu dan keluarga, maka salah satunya, pasti saya.
Andai kata hanya 1 perempuan yang memperjuangkan pendidikan ibu dan keluarga, maka itulah saya

(Septi peni Wulandani)






Related Posts

Posting Komentar