Ganti Judul dan ALt sendiri

Bijak Menggunakan Handphone

Penggunaan handphone di sekolah sudah diatur jelas dalam sebuah peraturan tertulis.Tetap saja, pelaksanaannya tak seindah harapan.

Awal masuk sekolah tahun ajaran baru, peserta didik tetap diperbolehkan untuk membawa handphone. Dengan catatan, tetap sesuai dengan aturan sekolah yang berlaku. 

Handphone hanya boleh dioperasikan di lingkungan sekolah ketika mendapatkan ijin dari guru mata pelajaran. Itupun hanya untuk browsing atau sekedar mengerjakan tugas dari Bapak atau Ibu guru yang menghendaki tugas dikerjakan secara online.

menggunakan handphone di sekolah

Peraturan akan penggunaan handphone yang telah diupayakan dengan optimal dalam kenyataannya menuai beberapa kekurangan. Butuh kesadaran tinggi serta kerjasama semua pihak agar peserta didik tetap disiplin dan patuh terhadap peraturan yang berlaku. 

Peserta Didik Diperbolehkan Membawa Handphone Ke Sekolah Menuai Banyak Tantangan

Sebenarnya sekolah telah berupaya kuat untuk mengatur penggunaan handphone agar digunakan sesuai fungsinya. Pada jam pertama, handphone ditaruh di loker kelas dan di kunci. Salah satu pengurus kelas wajib menyerahkan kunci ke ruang tata usaha dengan tetap dipantau oleh seorang guru yang bertugas.

Pekan pertama, masih ada beberapa kelas sengaja tidak menaruh handphone di loker dengan alasan kunci rusak, atau gurunya lupa menyuruh. Ada juga anggota kelas menyembunyikan kunci loker agar ketua kelas tidak menaruh kuncinya ke ruang tata usaha. Beragam kendala yang ditemukan untuk membuat peserta didik tertib dan penuh kesadaran meletakkan HPnya di loker.

Dua pekan berikutnya menjadi evaluasi bersama. Peraturan lebih dipertegas. Setiap aktivitas apapun yang berkaitan dengan pengambilan maupun pengembalian kunci harus di tulis dalam buku yang disediakan oleh Tata Usaha. Kita cermati bersama ke depannya, apakah peserta didik mulai memiliki kesadaran penuh untuk mematuhi peraturan secara kaffah ataupun tidak.

Mengapa demikian?

Keberadaan handphone untuk generasi remaja masa kini sangat amat penting bagi mereka. Rasa-rasanya mereka masih amat berat jika ke sekolah tidak menggunakan HP. Saat saya melontarkan pertanyaan kepada sebagian peserta didik, "bagaimana jika sekolah melarang menggunakan handphone?". Kompak, mereka menjawab "jangan Bu".

Fakta di lapangan saya sampaikan ke mereka, sontak ruangan penuh dengan keheningan. Mereka merenungi untaian kalimat saya sebagai bahan refleksi bersama.

Hah, mereka kurang memegang komitmen. Diberikan kelonggaran nyatanya dibuat enak begitu saja. Kesal deh.

Apa Saja yang Biasanya Dilakukan Peserta Didik Saat Membawa HP di Kelas?

Terkadang membuat para pengajar gemash sekaligus geregetan. Sisi positif, handphone memang membantu peserta didik mendapatkan literasi tambahan untuk menambah wawasan materi yang di dapatkan. Sisi negatifnya, cenderung lebih banyak ternyata. 

Handphone digunakan peserta didik untuk berkomunikasi dengan teman kelas lain. Bahkan ada juga yang merencanakan buat bolos sekolah. Saat pelajaran berlangsung bukannya peserta didik mendengarkan dan menyimak materi pelajaran yang disampaikan malahan ada  yang sibuk  membalas chat dari do'i nya. 

Menjadi tantangan bersama untuk menegakkan tata tertib yang telah dibuat. Harus ada keseimbangan dalam melangkah agar peserta didik memiliki jera dan penuh kesadaran untuk memanage penggunaan handphone di sekolah dengan tertib. Sebagus apapun aturan tapi jika tidak semua warga sekolah mendukung, apalah artinya. 

menggunakan handphone di sekolah

Menjadi perhatian bersama, bahwa perkembangan anak remaja masa kini dari sisi pergaulan sangat amat riskan. Jika tidak kuat godaan, konten yang mereka akses melalui handphone dengan dukungan internet bakal menjerumuskan ke arah pergaulan yang negatif. Begitupun sebaliknya.

Meskipun enggak bisa dipungkiri, internet sangat bermanfaat bagi peserta didik untuk mengerjakan tugas bahkan menjadi hal utama dalam mensukseskan agenda penilaian akhir semester. Bimbingan kepada peserta didik agar bijak dalam menggunakan handphone harus terus digencarkan.

Remaja jaman sekarang cenderung labil dan mengikuti trend masa kini. Termasuk remaja awal yang masih dalam proses pencarian jati diri. Apapun isi konten yang dirasa menarik, menghibur dan membuat mereka senang bakal ditonton. 

Dibutuhkan Keterbukaan Antara Anak dan Orangtua, Anak dan Guru

Suatu masalah bakal muncul ketika ada pemicunya. Faktanya, peserta didik dimanjakan oleh aktivitas dari gadget yang didukung oleh sumber internet. Berawal dari kondisi pandemi hingga kini menuju new normal, kebiasaan tersebut terus berlanjut. 

Ini baru permulaan, untuk menegaskan kepada peserta didik bahwa bukan saatnya lagi bermanjaan seperti saat pandemi. Anak butuh ruang saat dirumah. Berkomunikasi dua arah dengan orangtua di rumah. 

Sebaliknya, saat di sekolah orangtua mereka adalah Bapak/Ibu guru. Ketika kesadaran telah ditanamkan dari hati, upaya menegakkan serta menjunjung tinggi tata tertib sekolah bukanlah hal yang sulit. 

Butuh waktu memang, untuk meluruskan kembali apa saja yang selama ini menjadi kebiasaan agar bijak dalam menggunakan handphone. Bukan hanya sekedar hiburan tapi juga untuk belajar dan berkomunikasi efektif dengan orang yang ada di sekitar. Karena enggak bisa dipungkiri, trend era digital adalah berkomunikasi melalui gadget yang full support internet

Saatnya balik kepada aktivitas luring, dimana ketrampilan peserta didik yang berkaitan dengan membaca, membuka dan menutup buku, atau hanya sekedar mencari halaman dalam sebuah bacaan perlu ditingkatkan. Mengingat skill pandai bermain gadget belum tentu pandai perihal mengoperasikan komputer. 

Sikap ataupun attitude yang dulu belum sempat di pupuk, kini saatnya semua pihak harus ikut terlibat. Guru, orangtua, murid, petugas kantin, pak satpam dan semua warga sekolah saatnya introspeksi diri menguatkan bonding sebagaimana peran. 

Bukan saatnya lagi menyalahkan gadget ataupun lainnya. Waktunya berbenah sesuai peran masing-masing agar aturan yang telah dibuat bisa berjalan dengan nyaman. Mari tegakkan keadilan untuk menyeimbangkan aktivitas butuh gadget dan non gadget.

Related Posts

Posting Komentar